Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN Climate Change) memperkuat kerja sama global dalam pengelolaan hutan dan transparansi implementasi REDD+ melalui penyelenggaraan REDD+ Global Summit 2026 di Nairobi, Kenya, pada 19–21 Mei 2026. Pertemuan internasional tersebut dihadiri 97 peserta dari 59 negara pelaksana REDD+, organisasi mitra, lembaga donor, serta berbagai pemangku kepentingan sektor kehutanan dan iklim.
Forum ini menjadi bagian dari UNFCCC REDD+ Community of Practice yang bertujuan mendorong pembelajaran bersama, pertukaran pengalaman teknis, serta penguatan akses terhadap pendanaan berbasis hasil untuk mendukung target penghentian dan pembalikan deforestasi serta degradasi hutan pada 2030.
Menteri Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kehutanan Kenya Deborah Mlongo Barasa bersama Principal Secretary State Department of Forestry Kenya Gitonga Mugambi membuka secara resmi forum tersebut. Dalam sambutannya, para pejabat Kenya menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam menjaga integritas aksi iklim berbasis hutan di tengah meningkatnya tekanan terhadap ekosistem global.
Pertemuan ini juga mengevaluasi perkembangan implementasi REDD+ lebih dari satu dekade setelah lahirnya Warsaw Framework for REDD+ dan pengakuannya dalam Persetujuan Paris. Negara-negara peserta dinilai telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam penguatan sistem pemantauan hutan, kerangka transparansi, serta mekanisme safeguards lingkungan dan sosial.
Meski demikian, forum turut menyoroti sejumlah tantangan yang masih dihadapi berbagai negara, mulai dari perubahan persyaratan pendanaan, beragam mekanisme pembiayaan karbon, hingga meningkatnya tuntutan terhadap integritas dan kredibilitas proyek iklim berbasis hutan.
Sepanjang forum berlangsung, peserta bertukar pengalaman mengenai strategi memperoleh pendanaan berbasis hasil melalui jalur publik maupun pasar karbon. Negara-negara peserta juga membahas cara menjaga integritas lingkungan dan sosial tanpa mengesampingkan prioritas nasional masing-masing.
Isu transparansi menjadi salah satu fokus utama dalam diskusi. Para peserta berbagi praktik peningkatan kualitas data, penguatan dokumentasi, pengelolaan alur data, hingga kesiapan proses review internasional. Forum menilai pelaporan yang lebih konsisten dan transparan dapat meningkatkan kepercayaan internasional sekaligus memperluas akses pembiayaan iklim.
Selain menyoroti aspek karbon, forum juga menekankan bahwa keberhasilan implementasi REDD+ bergantung pada keterlibatan masyarakat, perlindungan lingkungan, serta manfaat non-karbon bagi komunitas lokal. Peserta menilai pendekatan yang mendukung mata pencaharian masyarakat dan partisipasi inklusif menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program kehutanan jangka panjang.
UN Climate Change juga mengajak seluruh peserta untuk melanjutkan pertukaran teknis melalui REDD+ Community of Practice yang tersedia di REDD+ Web Platform, termasuk forum diskusi khusus yang diluncurkan bersamaan dengan pelaksanaan summit tersebut.
Melalui forum ini, negara-negara peserta kembali menegaskan komitmen global untuk memperkuat kerja sama regional dan internasional dalam menghentikan deforestasi serta degradasi hutan sebelum 2030. UN Climate Change menyatakan akan terus memfasilitasi dialog lanjutan antarnegara, mitra pembangunan, dan lembaga donor guna mempercepat implementasi REDD+ yang transparan dan berintegritas tinggi.
***



