Puluhan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengikuti praktik panen kopi di Bentok Kampung, Kecamatan Bati-Bati, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Sabtu (18/7), sebagai bagian dari rangkaian Exchange Program Nasional (Expronas) 2026 yang diselenggarakan International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS) ULM. Program tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi mahasiswa melalui pembelajaran langsung mengenai budidaya, panen, hingga pengolahan kopi.
Kegiatan praktik dilaksanakan di kebun kopi seluas sekitar enam hektare milik Rektor ULM. Para peserta memanen buah kopi yang telah matang sambil mempelajari teknik pemetikan yang tepat sebagai salah satu tahapan penting dalam menghasilkan biji kopi berkualitas.
Ketua IAAS ULM, Muhammad Nasrudin, menjelaskan bahwa Expronas merupakan program magang yang diselenggarakan di sejumlah perguruan tinggi di Indonesia dengan mengedepankan pengalaman belajar di lapangan.
“Selama magang kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga praktik langsung. Pada minggu pertama peserta mempelajari jenis dan karakteristik tanaman kopi, kemudian dilanjutkan dengan pembelajaran mengenai pemangkasan serta teknik pemetikan. Hari ini mereka mendapat kesempatan mempraktikkan panen langsung di kebun kopi,” ujarnya.
Menurut Nasrudin, pengalaman tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai potensi pengembangan komoditas kopi di Kalimantan Selatan, sekaligus membekali mereka dengan pemahaman mengenai proses budidaya hingga teknik panen yang baik.
Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Serikat Petani Indonesia (SPI) Kalimantan Selatan, Dwi Putra Kurniawan, mengatakan Expronas 2026 merupakan penyelenggaraan angkatan kelima yang menghadirkan sejumlah lokasi magang bagi mahasiswa pertanian.
“Tahun ini terdapat tiga lokasi pembelajaran, salah satunya di Biji Kopi Borneo yang diikuti sekitar 23 mahasiswa dari berbagai jurusan di Fakultas Pertanian. Selama dua minggu mereka mempelajari budidaya, panen, hingga pengolahan kopi sebelum mempraktikkan teknik memanen buah kopi yang telah matang,” katanya.
Dwi menegaskan bahwa kualitas kopi sangat ditentukan sejak proses panen. Karena itu, petani maupun mahasiswa perlu memahami teknik pemetikan yang benar agar menghasilkan biji kopi dengan mutu yang mampu bersaing di pasar.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari persiapan menuju peresmian Teaching Factory Lambung Mangkurat Coffee & Roastery di Fakultas Pertanian ULM. Fasilitas tersebut akan menjadi pusat pembelajaran proses pascapanen, mulai dari pengupasan, sortasi, hingga proses roasting.
Menurut Dwi, penguasaan seluruh rantai produksi, mulai dari budidaya hingga hilirisasi, menjadi kunci dalam meningkatkan nilai tambah kopi lokal. Selama ini, sebagian petani masih menjual kopi dalam bentuk buah segar sehingga nilai ekonominya relatif rendah.
“Kalau petani sudah mampu menjual minimal dalam bentuk green bean, tentu nilai ekonominya akan lebih tinggi. Karena itu, keberadaan fasilitas pengolahan kopi di Fakultas Pertanian ULM menjadi langkah yang tepat untuk menjawab tantangan pengembangan kopi ke depan,” ujarnya.
Ia berharap perguruan tinggi terus memperkuat pelatihan dan pendampingan bagi petani, khususnya dalam teknik panen dan pascapanen, sehingga kualitas kopi Kalimantan Selatan semakin meningkat dan mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Selain memperkuat kapasitas mahasiswa, kolaborasi antara perguruan tinggi dan petani diharapkan mampu mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor kopi. Mahasiswa yang mengikuti program magang diharapkan dapat menjadi pendamping sekaligus agen penyebar pengetahuan bagi petani kopi di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
***



