Pada 2 September 2026, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menyampaikan kuliah umum bertajuk “Diplomasi Sains & Teknologi Indonesia–Amerika Serikat” di Institut Teknologi Bandung (ITB). Acara yang diikuti lebih dari 1.100 mahasiswa, serta dihadiri Rektor ITB Prof. Tatacipta Dirgantara, para wakil rektor, guru besar, dan staf pengajar ini menjadi momentum penguatan kerja sama sains-teknologi antara kedua negara.
Dubes Indroyono—yang juga alumnus ITB—mengingatkan bahwa peran AS dalam sejarah kemerdekaan Indonesia terbilang penting. AS menjadi mediator dalam Perundingan Linggarjati (1946), Perjanjian Renville di atas kapal perang USS Renville (1948), hingga mendorong Konferensi Meja Bundar di Den Haag (1949). Melalui mediasi PBB dan keterlibatan wakil Amerika dalam United Nations Commission for Indonesia, Washington ikut membuka jalan bagi pengakuan kedaulatan Indonesia. Pada 28 Desember 1949, sehari setelah penyerahan kedaulatan, AS resmi mengakui Indonesia. Diplomat H. Merle Cochran menyerahkan surat kepercayaan dari Presiden AS, Harry S. Truman kepada Presiden Soekarno, menandai dimulainya hubungan diplomatik resmi.
Di hadapan ribuan mahasiswa ITB, Dubes Indroyono mempertegas bahwa landasan politik luar negeri Indonesia adalah bebas-aktif, yang tercermin dalam Pembukaan UUD 1945: menolak penjajahan, mendukung kemerdekaan bangsa, dan berperan aktif mewujudkan perdamaian dunia. “bebas” berarti tidak memihak blok kekuatan, sedangkan “aktif” berarti ikut menyelesaikan masalah internasional dan menjaga perdamaian.
Sebagai representasi Presiden RI di AS, Dubes Indroyono menjelaskan tugasnya mencakup: mewakili bangsa, negara, rakyat, dan pemerintah Indonesia; meningkatkan kerja sama politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan-keamanan, dan people-to-people contact; serta melindungi seluruh WNI di AS.
Kerangka kerja sama kini diperkuat oleh Indonesia–US Comprehensive Strategic Partnership dengan Plan of Action 2024–2028, yang mencakup pilar perdagangan adil dan berimbang, energi, teknologi, pertahanan, keamanan regional, mineral kritis, keamanan maritim, dan ekonomi digital.
Indonesia dan AS adalah dua negara demokrasi besar di dunia. Jumlah penduduk AS tercatat 349 juta orang (2026), sedangkan penduduk Indonesia mencapai 288 juta (2026). Indonesia memiliki 38 provinsi, sementara AS memiliki 50 negara bagian. Dari sisi ekonomi, pendapatan per kapita AS adalah USD 90.000 (2025), sedangkan Indonesia berada pada USD 5.083 (2025). Namun, Indonesia memiliki keunggulan dalam keragaman budaya yang tinggi, keanekaragaman hayati darat dan laut yang kaya, serta potensi kekayaan sumber daya alam. AS unggul dalam sains dan teknologi, kekayaan sumber daya alam, serta kekuatan pertahanan. Dengan potensi semacam ini, peluang untuk bekerja sama saling menguntungkan terbuka lebar.
Amerika Serikat memang unggul dalam ekosistem riset. Anggaran R&D AS mencapai USD 940 miliar (2023), didukung jaringan universitas riset, laboratorium nasional, dan sektor swasta yang agresif mengubah hasil riset menjadi produk. Di sinilah kerja sama sains dan teknologi antara Indonesia dan AS dapat dilaksanakan secara saling menguntungkan. Arah kerja sama paling relevan bagi Indonesia meliputi: talenta STEM dan riset bersama, Artificial Intelligence (AI), data center, dan komputasi canggih, semikonduktor dan manufaktur elektronik, kesehatan, iklim, energi, dan kelautan.
Dalam kuliah umum di ITB, Dubes Indroyono menawarkan langkah kerja sama konkret ke depan, diawali dengan pembentukan komite bersama RI–AS untuk diplomasi sains-teknologi, disusul dengan penentuan sektor prioritas: semikonduktor, energi, kesehatan, pertanian, maritim, AI, manufaktur maju. Kemudian diidentifikasi kementerian, lembaga riset, universitas, kawasan industri, dan perusahaan untuk kegiatan kerjasama, disusul pelaksanaan proyek percontohan yang cepat menghasilkan. Perlu pula ditentukan mekanisme pembiayaan, jalur talenta dan mobilitas, serta aturan main untuk Intellectual Property (IP), data, dan keamanan. Tujuannya jelas: riset harus terhubung dengan kebutuhan industri. Kerja sama terbaik seperti ini akan membuat Indonesia lebih kuat secara kapasitas, sekaligus memberi AS mitra inovasi yang stabil di kawasan Indo-Pasifik.
Kehadiran lebih dari 1.100 mahasiswa ITB dalam kuliah umum ini bukan sekadar angka. Ini menunjukkan antusiasme generasi muda Indonesia terhadap diplomasi sains-teknologi. ITB, sebagai salah satu penjuru pengembangan sains dan teknologi di tanah air, memiliki peran strategis menjadi simpul kerja sama riset dengan AS.
***



