Indonesian Sawmill and Woodworking Association (ISWA) mendorong transformasi industri kayu nasional melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah kayu hutan tanaman serta memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global.
Ketua Presidium ISWA Jimmy Chandra menilai kekayaan sumber daya kayu perlu diikuti kemampuan industri menghasilkan material berkinerja tinggi. Dengan demikian, persaingan industri dapat berkembang dari mengandalkan volume dan harga menuju kualitas, keandalan, serta keunggulan produk.“Peluangnya bukan hanya memproduksi lebih banyak kayu, tetapi menciptakan nilai lebih besar dari setiap meter kubik,” demikian Jimmy dalam materi paparannya untuk Seminar IFMAC-WOODMAC ISWA, 24 September 2026.
Dalam paparan bertajuk “Transforming Indonesia’s Wood Industry: From Plantation Timber to High-Performance Wood”, Jimmy menjelaskan bahwa Indonesia memiliki beragam sumber bahan baku, termasuk jati, karet, mahoni, pinus, serta jenis pohon cepat tumbuh.
Menurut dia, keragaman tersebut menjadi modal untuk mengembangkan produk dengan spesifikasi dan kegunaan yang lebih luas. Namun, potensi bahan baku perlu dihubungkan dengan teknologi pengolahan, kebutuhan pengguna, dan peluang pasar.Ia menjelaskan, industri yang bertumpu pada produk dasar cenderung menghadapi keterbatasan diferensiasi, tekanan harga, margin rendah, serta kerentanan terhadap fluktuasi pasar.
Pengembangan material bernilai tinggi menjadi salah satu arah untuk memperkuat posisi industri.“Kita harus bersaing melalui kinerja, teknologi, dan nilai tambah,” tulis Jimmy dalam paparannya.
Salah satu pendekatan yang diangkat adalah modifikasi kayu untuk memperbaiki karakteristik bahan baku hutan tanaman. Dalam paparannya, Jimmy mengidentifikasi sejumlah tantangan, antara lain keawetan alami yang rendah, kepekaan terhadap kelembapan, perubahan dimensi, serta kerentanan terhadap organisme perusak.
Perubahan dimensi tersebut dapat berupa pengembangan, penyusutan, pelengkungan, maupun retak yang memengaruhi kualitas dan kesesuaian penggunaan kayu.Menurut Jimmy, teknologi modifikasi termal dan kimia membuka peluang untuk meningkatkan kestabilan dimensi serta ketahanan kayu.
Ia mengangkat modifikasi termokimia, yang memadukan perlakuan panas dan kimia, sebagai salah satu pendekatan untuk menghasilkan material dengan kinerja lebih baik.
Paparan tersebut turut memperkenalkan IDOLA sebagai contoh pengembangan modifikasi termokimia kayu melalui tahapan penelitian ilmiah, pengembangan teknologi, uji skala percontohan, hingga manufaktur industri.
Jimmy menekankan pentingnya pengujian menyeluruh dalam menilai kinerja material. Aspek yang dievaluasi mencakup sifat mekanis, kestabilan dimensi, ketahanan terhadap pelapukan dan rayap, serta karakteristik kimia kayu.
Peningkatan kinerja tersebut, menurut dia, dapat membuka peluang pemanfaatan yang lebih luas untuk arsitektur, furnitur, interior, penggunaan luar ruang, konstruksi, serta komponen rekayasa sesuai persyaratan teknis masing-masing.
“Kinerja kayu yang lebih baik menciptakan peluang bisnis yang lebih baik,” demikian salah satu pesan dalam paparannya.Ia menjelaskan bahwa kualitas yang konsisten, kinerja yang dapat diprediksi, dan umur pakai yang lebih panjang merupakan bagian dari pembentukan nilai produk. Keunggulan tersebut dapat mendukung daya saing sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Untuk mewujudkan transformasi itu, Jimmy menyoroti pentingnya kolaborasi antara pengelola sumber daya hutan, pelaku industri, peneliti, penyedia mesin, pengembang teknologi kimia, arsitek, sektor konstruksi, dan pasar ekspor.Dalam kerangka tersebut, ISWA menempatkan diri sebagai penghubung antarpelaku agar pengetahuan dan teknologi dapat diterapkan menjadi inovasi industri serta produk bernilai tambah.
“Indonesia tidak kekurangan kayu. Kita membutuhkan nilai lebih besar dari kayu yang kita miliki,” tulis Jimmy.Melalui penguatan hubungan antara sumber daya berkelanjutan, riset, teknologi, dan manufaktur, ISWA mendorong industri kayu nasional menghasilkan produk yang lebih andal dan bernilai tinggi. Transformasi tersebut diharapkan memperluas pemanfaatan kayu hutan tanaman sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri kayu global (**).



