NVIDIA bukan lagi sekadar perusahaan pembuat kartu grafis untuk bermain gim. Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat ini kini menjadi salah satu aktor utama di balik perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dunia. Chip Graphic Processing Unit (GPU), sistem pusat data, jaringan, dan perangkat lunak NVIDIA menjadi “mesin” bagi chatbot, riset obat, robotika, kendaraan cerdas, manufaktur, serta analisis data skala besar.
Skalanya sangat besar. Pada tahun fiskal 2025, NVIDIA membukukan pendapatan US$130,5 miliar, sekitar Rp2.283 triliun dengan asumsi kurs Rp17.500 per dolar AS. Pendapatan itu melonjak 114 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sementara laba bersihnya mencapai US$72,9 miliar atau sekitar Rp1.276 triliun. Perusahaan yang dahulu lekat dengan industri gim kini menjadi pemasok infrastruktur AI strategis bagi perusahaan teknologi, lembaga riset, dan industri global.
Indonesia telah membangun hubungan dengan NVIDIA sejak tahun 2021. Pada Januari tahun itu, PT Telkom Indonesia menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang menggunakan superkomputer NVIDIA DGX A100 untuk pengembangan computer vision, AI, dan aplikasi berbasis 5G.
Pada tahun 2022, NVIDIA bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi untuk pelatihan dosen dan lebih dari 20.000 mahasiswa selama lima tahun, pengembangan kurikulum AI, riset, lokakarya, penguatan startup, dan pemanfaatan sistem DGX A100.
Kemitraan berkembang bersama Indosat Ooredoo Hutchison. Pada tahun 2024, pemerintah mengumumkan rencana AI Center senilai US$200 juta. Pada Juli 2025, Kementerian Komdigi, Indosat, Cisco, dan NVIDIA membentuk Indonesia AI Center of Excellence untuk mendukung riset lokal, talenta, infrastruktur, dan keamanan AI. Pada 13 Agustus 2026, Kementerian Komdigi, Universitas Gadjah Mada, Indosat, dan NVIDIA meluncurkan UGM–Indosat–NVIDIA AI Technology Center di Yogyakarta.
Momentum itu semakin kuat ketika Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, pada 23 September 2026, mengumumkan rencana investasi NVIDIA, sekitar US$4,5 miliar di Batam. Investasi tersebut diarahkan pada pengembangan pusat data dan kapasitas komputasi AI nasional. Lalu, pada 28 September 2026, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo bertemu Chief External Affairs Officer NVIDIA, Bruce Andrews, di Washington, DC. Salah satu pembahasan penting ialah peluang penggunaan AI Open Model NVIDIA di Indonesia.
Bayangkan, sebuah universitas memiliki 50.000 dokumen: skripsi, tesis, jurnal, laporan penelitian, peraturan akademik, notulen rapat, hingga arsip kerja sama internasional. Dengan AI Open Model, universitas dapat menjalankan model AI pada server internal atau cloud privat berbasis GPU. Dokumen-dokumen itu dapat diindeks dan dihubungkan dengan sistem pencarian berbasis AI, dengan hak akses berbeda bagi mahasiswa, dosen, pustakawan, dan pimpinan universitas.
Seorang dosen kemudian dapat bertanya, “Apa saja riset UGM tentang ketahanan pangan dalam lima tahun terakhir?” atau “Tolong rangkum kerja sama internasional bidang energi terbarukan yang masih aktif.” Sistem dapat mencari dokumen yang relevan, menyusun ringkasan, dan menunjukkan sumber arsipnya. Karena dijalankan dalam infrastruktur yang dikendalikan institusi, universitas dapat mengatur siapa yang berhak melihat dokumen tertentu serta mengurangi risiko data sensitif keluar tanpa izin.
Namun, manfaat tersebut harus diimbangi pula dengan keamanan siber, perlindungan data, pengujian ketepatan jawaban, dan tenaga ahli yang mampu mengelola sistem. Dengan persiapan itu, Indonesia dapat bergerak dari sekadar pengguna AI menjadi pengembang solusi AI yang menjawab kebutuhan nasional.
***



