Pertemuan para industrialis Amerika Serikat dengan Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, pada 28 Juli kembali menegaskan bahwa Indonesia adalah salah satu destinasi investasi paling strategis di Asia.
Acara yang digelar US-ASEAN Business Council (US-ABC), dengan tuan rumah Ketua US-ABC, yang juga mantan Duta Besar AS Brian McFeeters ini dihadiri jajaran korporasi besar, dari sektor pangan, teknologi, keuangan, hingga pertahanan dan pertambangan, serta para mantan Dubes AS di Jakarta, Joseph Donovan dan Robert Blake yang memberi perspektif sejarah hubungan ekonomi kedua negara.
Hadir dalam pertemuan, di sektor penerbangan, Boeing menonjol sebagai mitra jangka panjang Indonesia, baik melalui armada pesawat komersial yang digunakan maskapai nasional maupun peluang penguatan rantai pasok komponen pesawat di dalam negeri. Lockheed Martin hadir sebagai simbol kerja sama pertahanan dan kedirgantaraan, termasuk dukungan pada modernisasi alutsista dan potensi alih teknologi yang mendongkrak kapasitas industri lokal.
Di sektor pertambangan, hadir Freeport-McMoRan, melalui PT Freeport Indonesia memainkan peran penting dalam pengelolaan sumber daya mineral di Papua dan investasi jangka panjang pada infrastruktur tambang serta smelter, yang berdampak langsung pada penerimaan negara dan pembangunan daerah. Sementara itu, Bower Group Asia berperan sebagai konsultan kebijakan dan strategi yang membantu menjembatani pelaku usaha global dengan dinamika regulasi dan iklim usaha di Indonesia.
Perusahaan lain yang hadir dalam pertemuan ikut menegaskan kedalaman kerja sama ekonomi Indonesia–AS. Cargill mendukung ketahanan pangan melalui perdagangan jagung, kedelai, dan gandum. Caterpillar menyuplai peralatan berat untuk pertambangan dan konstruksi sejak 1971.
PepsiCo mendorong inisiatif keberlanjutan, mulai dari daur ulang kemasan di Bali hingga penanaman pohon di Jawa Barat. Perusahaan NVIDIA menggambarkan wajah baru investasi teknologi melalui program pengembangan talenta Artifical Intelligence (AI) bersama Kemendiktisainstek. Walmart Foundation menunjukkan komitmen pada rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani, sementara Chubb memperkuat literasi keuangan dan manajemen risiko bagi masyarakat.
Dalam pertemuan, Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, memaparkan bahwa pada Semester I-2026 investasi dari Amerika Serikat ke Indonesia mencapai USD 1,7 miliar. Tahun 2025, ekspor Indonesia ke AS menyentuh USD 31 miliar, sekitar 11 persen dari total ekspor RI ke seluruh Dunia, dengan nilai perdagangan bilateral RI – AS mencapai USD 43,8 miliar.
Komoditas utama ekspor RI ke AS, tahun 2025, meliputi elektronika sekitar USD 6 miliar, tekstil USD 4,9 miliar, alas kaki USD 2,8 miliar, minyak sawit USD 2,1 miliar, furniture USD 1.4 milyar dan seafood USD 1.2 milyar. Sementara impor dari AS mencakup kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang dan produk ruang angkasa /satelit, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.
Para industrialis AS sepakat bahwa potensi ini masih bisa dikembangkan lebih jauh. Reformasi perizinan melalui PP No.28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berbasis Risiko dipandang sebagai langkah positif, namun mereka juga menyoroti pentingnya penguatan perlindungan hak cipta dan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi pusat–daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas SDM.
Bila berbagai masukan ini dijawab dengan kebijakan yang tepat, Indonesia berpeluang mengunci lebih banyak investasi kelas dunia, dari Boeing dan Lockheed Martin hingga Freeport dan raksasa teknologi, sekaligus mengerek nilai ekspor ke pasar Amerika Serikat di tahun-tahun mendatang.
***



