Indonesia Perlu Waspadai Penguatan El Nino pada Semester II 2026

Latest

- Advertisement -spot_img

Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi penguatan El Nino pada semester II 2026 yang diperkirakan berdampak pada penurunan curah hujan, peningkatan risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, serta tekanan terhadap ketahanan air dan produksi pangan.

Berdasarkan analisis prospek cuaca dan iklim Indonesia beberapa bulan ke depan yang disusun A. Karsidi pada 24 Juni 2026, kondisi atmosfer dan laut hingga Dasarian II Juni 2026 menunjukkan Indonesia memasuki fase transisi menuju musim kemarau yang semakin menguat. Data terbaru memperlihatkan adanya penguatan sinyal El Nino, sementara pengaruh Indian Ocean Dipole atau IOD masih relatif lemah, meskipun berpotensi berubah menuju fase positif pada paruh kedua 2026.

“Indonesia sedang memasuki fase penguatan El Nino yang semakin nyata. Anomali suhu muka laut di wilayah Nino 3.4 terus meningkat, dan model prediksi internasional mengindikasikan fenomena ini dapat bertahan hingga akhir tahun,” ujar A. Karsidi dalam analisis tersebut.

Ia menjelaskan indeks suhu muka laut atau sea surface temperature di wilayah Nino 3.4 pada Dasarian II Juni 2026 meningkat menjadi +1,61 derajat Celsius, lebih tinggi dibandingkan Dasarian I Juni yang berada pada +1,40 derajat Celsius. NOAA juga telah menetapkan status El Nino Advisory, yang menunjukkan fenomena El Nino telah berkembang dan terkonfirmasi melalui indikator laut maupun atmosfer.

Menurut Karsidi, perkembangan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami penurunan secara bertahap mulai Juli dan semakin nyata pada Agustus hingga Oktober 2026.

“Periode Agustus hingga Oktober 2026 diperkirakan menjadi fase paling kritis karena ditandai penurunan curah hujan yang semakin luas, peningkatan kekeringan meteorologis dan hidrologis, serta tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan,” katanya.

Dalam analisis itu disebutkan awal musim kemarau 2026 masih dapat diselingi hujan sporadis atau disebut sebagai “kemarau basah”. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh variabilitas intramusiman seperti Madden-Julian Oscillation, gelombang ekuator, serta suhu muka laut di sekitar Indonesia yang masih relatif hangat. Namun, kondisi itu diperkirakan tidak berlangsung lama seiring menguatnya El Nino.

Sejumlah wilayah yang berpotensi lebih awal mengalami kondisi kering pada Juli meliputi Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan sebagian Sulawesi Selatan. Pada Agustus hingga September, wilayah dengan peluang curah hujan rendah diperkirakan meluas ke Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.

Karsidi juga mengingatkan bahwa Oktober 2026 berpotensi menjadi puncak kemarau nasional. Pada periode tersebut, suhu udara diperkirakan lebih tinggi dari normal, kelembapan udara menurun, jumlah hari tanpa hujan semakin panjang, evapotranspirasi meningkat, dan risiko kebakaran hutan serta lahan ikut naik.

“Fokus kebijakan sebaiknya tidak hanya bertumpu pada pemantauan cuaca, tetapi bergeser pada strategi antisipasi dan adaptasi, termasuk pengelolaan sumber daya air, kesiapsiagaan karhutla, penyesuaian kalender tanam, serta pemanfaatan operasi modifikasi cuaca secara terencana,” ujarnya.

Adapun empat dampak utama yang perlu diantisipasi mencakup kekeringan meteorologis, krisis sumber daya air, peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan, serta gangguan produksi pertanian. Sebagian wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Papua Selatan bahkan telah masuk kategori siaga kekeringan.

Ia menambahkan, interaksi antara El Nino yang menguat dan potensi perubahan IOD menuju fase positif dapat menjadikan musim kemarau 2026 sebagai salah satu musim kemarau paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

“Semester kedua tahun 2026 merupakan periode yang memerlukan kewaspadaan nasional,” kata Karsidi.

Dengan meningkatnya potensi risiko iklim pada semester II 2026, seluruh pemangku kepentingan di tingkat pusat dan daerah diharapkan memperkuat koordinasi, mempercepat langkah mitigasi, serta memastikan kesiapan masyarakat dan sektor-sektor terdampak agar dampak kekeringan, karhutla, dan gangguan produksi pangan dapat ditekan sejak dini.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles