Transformasi logistik hijau menjadi bagian penting dalam mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi, efisiensi rantai pasok, perlindungan lingkungan, serta pencapaian target iklim Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam Green Logistics Talk #2 dan Soft Launching Asosiasi Pengusaha Green Logistik Indonesia (APGLI) di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
Analis Kebijakan Ahli Utama Kementerian Kehutanan Agus Justianto dalam sambutan kunci bertajuk “Arah Kebijakan Perlindungan Hutan dan Peran Sektor Logistik dalam Mendukung Pembangunan Rendah Karbon”, mengatakan sektor logistik memiliki posisi strategis dalam mendukung NDC Indonesia dan Indonesia’s FOLU Net Sink 2030. Kontribusi dapat dilakukan melalui efisiensi energi, optimalisasi rute dan muatan, transportasi multimoda, penggunaan kendaraan dan energi rendah emisi, serta digitalisasi untuk meningkatkan ketelusuran rantai pasok. “Logistik hijau bukan hanya agenda lingkungan. Logistik hijau merupakan strategi bisnis, strategi efisiensi, dan strategi peningkatan daya saing,” kata Agus Justianto.
Ketua Umum APGLI Netty Sri Rejeki mengatakan APGLI lahir dari pengalaman dan kesadaran bahwa sektor logistik memiliki peran besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun di saat yang sama, kita juga menghadapi tantangan nyata di lapangan, seperti tingginya biaya operasional, keselamatan transportasi, serta tuntutan pelanggan terhadap praktik bisnis yang lebih bertanggung jawab.
“Dari kondisi tersebut, kami melihat bahwa green logistics tidak boleh hanya menjadi konsep besar yang sulit dijangkau. Green logistics harus dapat diterjemahkan menjadi langkah praktis yang bisa dilakukan oleh perusahaan, baik besar maupun kecil, sesuai dengan kemampuan dan kondisi operasional masing-masing,” kata Netty.
Karena itu, APGLI dibentuk bukan hanya untuk berbicara tentang logistik hijau, tetapi untuk membantu industri memulainya.
“Dalam roadmap APGLI, kami memulai dengan membangun fondasi organisasi, memperkuat jejaring anggota, mengembangkan forum edukasi, dan memperkenalkan praktik awal pengukuran karbon. Setelah itu, APGLI akan bergerak menuju penguatan ekosistem digital, pelaporan carbon, dan kolaborasi pembiayaan hijau. Pada tahap berikutnya, APGLI diharapkan dapat berkontribusi dalam membangun posisi Indonesia sebagai salah satu pusat praktik green logistics di kawasan regional,” tambah Netty.
Sementara itu, Pakar Perubahan iklim, Karbon dan Dosen Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menekankan bahwa carbon inventory menjadi langkah awal untuk membangun sistem logistik rendah karbon. Data yang akurat dan terukur diperlukan untuk mengidentifikasi sumber utama emisi atau hotspot sehingga langkah pengurangan emisi dapat ditetapkan secara efektif.
Pakar Manajemen Rantai Pasok dan Wakil Rektor 1 ULBI Bandung Agus Purnomo menegaskan bahwa green logistics telah berkembang dari sekadar kepatuhan lingkungan menjadi strategi bisnis untuk meningkatkan efisiensi, ketahanan, keselamatan, dan daya saing rantai pasok Indonesia. “Implementasinya mencakup transportasi hijau, optimasi rute dan muatan, efisiensi bahan bakar, pergudangan hemat energi, pengelolaan persediaan, kemasan ramah lingkungan, reverse logistics, serta pemanfaatan teknologi digital dan energi terbarukan,” imbuh Agus Purnomo.
Wakil Ketua Umum Bidang International Affairs dan SDM Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Rifka Hidayat mengatakan berdirinya APGLI merupakan langkah strategis dalam memperkuat pengembangan green logistics di Indonesia. ALFI siap berkolaborasi untuk mendorong sistem logistik hijau yang terintegrasi, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Green Logistics Talk #2 dan Soft Launching APGLI diharapkan menjadi momentum memperkuat kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi dan pemangku kepentingan dalam membangun ekosistem logistik hijau nasional. Transformasi tersebut diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pencapaian target iklim Indonesia, tetapi juga meningkatkan efisiensi, memperkuat ketahanan rantai pasok, dan mendorong daya saing industri logistik nasional.
***



