Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah setelah jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi kembali meningkat. Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, sementara lonjakan di Sumatera Selatan menjadi perhatian baru dalam penentuan fokus operasi.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 1.532 hotspot high confidence secara nasional hingga Minggu (20/9) pukul 23.59 WIB. Jumlah tersebut bertambah 209 titik dibandingkan 1.323 titik yang tercatat pada Sabtu (19/9/2026).
Di enam provinsi prioritas, Kalimantan Tengah mencatat 968 hotspot, turun dari 1.035 titik. Sumatera Selatan mengalami kenaikan paling besar menjadi 285 titik dari sebelumnya 112 titik. Kalimantan Barat turun menjadi 98 titik dari 107, sedangkan Kalimantan Selatan turun dari 55 menjadi 39 titik.
Hotspot di Jambi meningkat dari 14 menjadi 26 titik. Sementara itu, Riau yang sehari sebelumnya tidak mencatat hotspot high confidence kembali mencatat satu titik dalam pemantauan terbaru.
Perubahan tersebut membuat Kalimantan Tengah tetap menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi, meskipun angkanya mulai menurun. Di sisi lain, peningkatan tajam di Sumatera Selatan mendorong pemerintah memperkuat pengendalian di wilayah tersebut.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan bukan ukuran langsung jumlah kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar. Karena satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik deteksi, petugas tetap melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi di lapangan.
Penguatan operasi dilakukan melalui kombinasi penanganan darat dan udara. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan pada Minggu (20/9) bahwa pemerintah telah mengerahkan 64 pesawat dan helikopter serta 54.394 personel gabungan sejak Agustus untuk menangani karhutla di berbagai wilayah terdampak.
Pengerahan tersebut mencakup helikopter water bombing, helikopter patroli, serta pesawat pendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Tim menyesuaikan operasi udara dengan perkembangan kebakaran, potensi awan, jarak pandang, dan faktor keselamatan penerbangan.
Di lapangan, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan relawan melakukan patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman, penyekatan api, mopping up, pembasahan, dan pendinginan.
Kondisi di Kalimantan Tengah masih menghadapi kendala asap. Pada Minggu (20/9), jarak pandang di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya, sempat turun hingga sekitar 600 meter. Kondisi tersebut mengganggu 14 pergerakan pesawat yang terdiri atas tujuh kedatangan dan tujuh keberangkatan.
Sementara itu, Sumatera Selatan menghadapi kondisi meteorologis yang meningkatkan risiko karhutla. BMKG memprakirakan sebagian besar wilayah, terutama bagian tengah hingga timur, mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal pada dasarian III September.
Sejumlah wilayah Sumatera Selatan juga mengalami hari tanpa hujan dengan kategori panjang hingga sangat panjang. Sebagian wilayah bahkan telah mengalami kekeringan ekstrem selama lebih dari 60 hari. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan vegetasi dan lahan gambut terhadap kebakaran.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memperkuat pembasahan kawasan gambut di Sumatera Selatan melalui pengelolaan tata air dan injeksi air. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan kelembapan lahan selama periode kemarau.
Di sisi kualitas udara, pemantauan PM2,5 menunjukkan kondisi yang berbeda antarwilayah. Sebagian daerah masih berada dalam kategori baik hingga sedang, sementara sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa lokasi juga tercatat dalam kategori berbahaya.
Kementerian Kehutanan meminta masyarakat di wilayah terdampak untuk mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Kelompok rentan, termasuk anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan atau penyakit kronis, perlu mendapat perhatian lebih. Pengguna kendaraan juga diminta mengurangi kecepatan, menyalakan lampu, dan menjaga jarak aman ketika melintas di tengah kabut asap.
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Pemegang izin dan pengelola areal harus memastikan kesiapan pencegahan, deteksi dini, serta pengendalian kebakaran di wilayah masing-masing.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang terdampak diminta segera melaporkannya kepada petugas. Pelaporan dini diperlukan agar tim dapat melakukan pemeriksaan dan merespons potensi kebakaran sebelum berkembang lebih luas.
***



