Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Kaja Glomm meninjau pengelolaan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung, Minggu (20/9). Kunjungan tersebut mencakup pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mitigasi interaksi negatif antara manusia dan Gajah Sumatera, serta upaya konservasi Badak Sumatera.
Pemerintah menempatkan perlindungan Way Kambas sebagai bagian dari pengelolaan satu kesatuan bentang alam. Pendekatan tersebut mencakup perlindungan habitat, kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, pengamanan kawasan, serta pengelolaan ruang hidup satwa dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan konservasi.
Rangkaian kunjungan diawali dengan peninjauan pengendalian karhutla di kawasan TN Way Kambas. Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan tersebut menghadapi sejumlah kejadian kebakaran sehingga pengelola memperkuat pencegahan, kesiapan personel, ketersediaan sumber air, serta sarana dan prasarana pemadaman.
Raja Juli melihat kesiapan petugas sekaligus berdiskusi mengenai langkah pencegahan dan respons yang dilakukan untuk menghadapi potensi kebakaran. Penguatan pengendalian karhutla menjadi penting untuk menjaga habitat satwa sekaligus mencegah kerusakan ekosistem di dalam kawasan taman nasional.
Setelah meninjau pengendalian kebakaran, rombongan melanjutkan kunjungan dengan melihat kesiapan infrastruktur barrier untuk mengurangi potensi interaksi negatif antara Gajah Sumatera dan masyarakat di sekitar kawasan.
Brigjen TNI Sriyanto, Ketua Komite Gabungan Mitigasi dan Penanganan Interaksi Negatif Gajah Sumatera, mendampingi Menteri Kehutanan dalam peninjauan tersebut. Ia menjelaskan perkembangan pembangunan serta sistem mitigasi yang tengah dipersiapkan di lapangan.
Infrastruktur barrier dirancang sebagai bagian dari sistem pengamanan yang lebih luas, bukan sekadar pembatas fisik. Sistem tersebut diarahkan untuk membantu mencegah gajah keluar dari kawasan konservasi dan memasuki permukiman maupun lahan yang dikelola masyarakat.
Penguatan sistem tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko konflik sekaligus memberikan ruang pengelolaan yang lebih aman bagi masyarakat, petugas, dan satwa. Pemerintah juga menyiapkan pengawasan kawasan sebagai bagian dari sistem mitigasi tersebut.
Dalam kunjungan itu, Raja Juli turut melihat kondisi gajah-gajah jinak yang selama ini membantu kegiatan pengelolaan dan mitigasi di Way Kambas. Ia menjelaskan kepada Kaja Glomm bahwa gajah-gajah tersebut membutuhkan proses adaptasi secara bertahap seiring dengan peningkatan sistem pengamanan kawasan.
Kaja Glomm kemudian menanyakan target pengelolaan tersebut dengan mengatakan, “That’s the ambition, to unchain?” Raja Juli menjawab, “Yes.”
Pernyataan tersebut merujuk pada upaya mengurangi penggunaan rantai terhadap gajah jinak secara bertahap setelah barrier dan sistem pengamanan kawasan semakin siap. Pemerintah tetap mempertimbangkan perilaku dan kemampuan adaptasi setiap individu gajah serta kesiapan infrastruktur sebelum melakukan perubahan pengelolaan.
Kunjungan tersebut menunjukkan keterkaitan antara pengendalian karhutla, perlindungan habitat, mitigasi interaksi manusia dan satwa, serta konservasi spesies yang populasinya terbatas. Perlindungan ekosistem Way Kambas membutuhkan pengelolaan yang berjalan secara terpadu agar keselamatan masyarakat dan satwa dapat berjalan bersama.
***



