Pada 6 Agustus 2026, delegasi Indonesia mengunjungi Argonne National Laboratory di Lemont, Illinois, untuk merintis kerja sama riset minerals-to-materials dan pemisahan logam tanah jarang (rare earth elements/REE). Kunjungan ini menjadi langkah diplomasi sains untuk mengubah kekayaan mineral Indonesia menjadi material bernilai tambah, berteknologi tinggi, dan lebih berkelanjutan.
Delegasi RI terdiri Dirjen Amerika dan Eropa Kemlu RI, Grata Endah Werdaningtyas, bersama Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, Konsul Jenderal RI di Chicago, Trisari Dyah Paramita dan jajaran. Mereka diterima oleh Dr. Henry Huang, Deputy Director Argonne National Laboratory di Negara Bagian Illinois AS, bersama jajaran pimpinan dan peneliti Argonne, termasuk, Dr. Albert Lipson, Principal Materials Scientist di Argonne. Pertemuan tersebut membuka dialog mengenai pemanfaatan keunggulan mineral Indonesia dan kepakaran Argonne dalam pemrosesan material, pemodelan rantai pasok, analisis siklus hidup, kecerdasan buatan, serta daur ulang.
Argonne merupakan bagian dari program Departemen Energi AS, disana terdapat pula Minerals to Materials Supply Chain Facility atau METALLIC, yang mengembangkan teknologi dari pengayaan bahan baku mineral, ekstraksi dan pemisahan, pemurnian, sampai pengembangan paduan dan manufaktur maju. Program ini mempercepat teknologi ekstraksi dan pemrosesan material kritis untuk memperkuat rantai pasok yang tangguh.
Indonesia memiliki potensi mineral kritis besar melalui bauksit, nikel, tembaga, dan timah. Bauksit dapat diolah menjadi alumina dan aluminium; nikel laterit dapat menjadi feronikel, campuran endapan hidroksida (mixed hydroxide precipitate), hingga nikel sulfat untuk bahan baterai; tembaga dapat diolah menjadi katoda, kawat, dan foil untuk elektrifikasi; sementara timah menjadi solder dan material penting bagi industri elektronik.
Pada jalur nikel laterit, pelindian asam bertekanan tinggi (high-pressure acid leaching) digunakan untuk melarutkan logam dari bijih tertentu sebelum nikel dan kobalt dipulihkan sebagai campuran endapan hidroksida. Selanjutnya, material tersebut dapat dimurnikan menjadi bahan kimia berkualitas baterai.
Lebih jauh, sumber-sumber itu berpotensi menyimpan unsur tanah jarang sebagai produk ikutan. Residu bauksit (red mud) dapat mengandung REE; nikel laterit serta residu pelindian asam bertekanan tinggi perlu dipetakan untuk mengetahui distribusi REE; sementara tailing timah dapat memuat monasit, xenotim, serta zirkon—mineral pembawa REE yang perlu dikelola bersama kandungan thorium dan uranium secara aman.
Dalam pertemuan Delegasi RI dengan pihak Argonne Laboratory telah disepakati untuk merintis terbentuknya konsorsium riset yang terdiri dari: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Indonesia, ITB-Bandung, ITS-Surabaya dan industri mineral, kesemuanya dari pihak Indonesia. Sedang pihak AS diwakili oleh Argonne Laboratory, University of Michigan dan University of Illinois. Pihak AS dapat berkontribusi melalui kekuatan riset material, energi, pemrosesan mineral, dan inovasi.
University of Michigan memiliki kemitraan strategis lima tahun dengan Argonne untuk memperkuat riset dan pendidikan. University of Illinois mempunyai Critical Minerals & Materials Center yang berfokus pada pengembangan sumber daya serta teknologi mineral kritis. Kolaborasi tersebut dapat menghasilkan pemetaan mineralogi, uji pemisahan unsur tanah jarang, rancangan alur proses skala pilot, analisis ekonomi-teknologi dan siklus hidup, serta program pertukaran peneliti dan mahasiswa.
Dengan prinsip nilai tambah di Indonesia, tata kelola lingkungan ketat, serta alih pengetahuan yang nyata, kerja sama Indonesia–Argonne berpotensi mengubah mineral menjadi material strategis dan mempromosikan residu pertambangan menjadi peluang produk inovasi.
***



