Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan model Blue-Green Nexus sebagai pendekatan terpadu untuk memperkuat ketahanan energi, penyediaan air bersih, serta meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat pesisir. Model yang tengah dimatangkan melalui riset di Desa Ekas Buana, Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, ini diharapkan dapat menjadi acuan pembangunan kawasan pesisir berkelanjutan di Indonesia.
Pengembangan model dilakukan oleh Kelompok Riset Intelligent Power and Energy Systems (InPES), Pusat Riset Teknologi Kelistrikan (PRTK), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) BRIN. Sistem yang dirancang mengintegrasikan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) off-grid, Battery Energy Storage System (BESS), teknologi desalinasi air laut, serta skema pembiayaan berbasis karbon atau Circular Blue-Finance.
Perekayasa Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Moch Arief Albachrony, menjelaskan bahwa Desa Ekas Buana dipilih karena memiliki potensi besar di sektor perikanan, budidaya lobster, rumput laut, dan pariwisata. Namun, kawasan tersebut masih menghadapi keterbatasan pasokan energi yang andal dan akses terhadap air bersih.
“Tujuan kami bukan sekadar membangun pembangkit listrik tenaga surya, melainkan juga merancang sistem terpadu yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan energi bersih, air bersih, dan penguatan aktivitas ekonomi produktif,” ujar Arief.
Dalam rancangan tersebut, PLTS off-grid akan memasok listrik secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan PLN. Energi yang dihasilkan diprioritaskan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat, seperti pengoperasian cold storage bagi nelayan, pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta penyediaan air bersih melalui teknologi desalinasi air laut.
Menurut Arief, keberadaan cold storage menjadi elemen penting untuk menjaga kualitas hasil tangkapan ikan sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Sementara teknologi desalinasi diharapkan mampu mengatasi keterbatasan akses air bersih yang selama ini menjadi tantangan bagi sebagian masyarakat pesisir.
Selain menghadirkan solusi teknologi, BRIN juga mengembangkan konsep Circular Blue-Finance, yaitu mekanisme yang menghubungkan manfaat pengurangan emisi karbon dengan insentif ekonomi bagi masyarakat.
“Dalam konsep yang kami kembangkan, manfaat energi bersih tidak berhenti pada pengurangan emisi. Nilai karbon yang dihasilkan dapat dimodelkan menjadi token karbon yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai insentif, misalnya untuk memberikan potongan biaya pembelian air bersih hasil desalinasi. Dengan demikian, energi, air bersih, dan ekonomi masyarakat saling terhubung dalam satu ekosistem yang berkelanjutan,” jelas Arief.
Penyusunan model dilakukan melalui rangkaian Focus Group Discussion (FGD), koordinasi teknis dengan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat, serta survei lapangan bersama pemerintah daerah dan masyarakat pada 30 Juni hingga 2 Juli 2026.
Dalam pembahasan teknis, Manager PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah NTB, I Nyoman Suparte, menekankan pentingnya integrasi BESS untuk menjaga keandalan pasokan listrik, disertai analisis kapasitas sistem dan strategi pemeliharaan infrastruktur.
“Tingkat salinitas yang tinggi di kawasan pesisir berpotensi mempercepat korosi pada peralatan. Kondisi tersebut menuntut perencanaan aspek keandalan dan pemeliharaan sejak tahap awal perancangan sistem,” ujar Suparte.
Tim BRIN juga mengidentifikasi Koperasi Nelayan Merah Putih sebagai kelembagaan lokal yang berpotensi mengelola sistem energi berbasis masyarakat. Sementara itu, Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIDA Provinsi Nusa Tenggara Barat, Lalu Suryadi, mengusulkan pemanfaatan oven tenaga surya untuk proses pengeringan rumput laut agar lebih efisien, ramah lingkungan, dan memberikan nilai tambah bagi komoditas unggulan masyarakat pesisir.
Arief menegaskan seluruh hasil kajian akan menjadi dasar penyusunan model implementasi Blue-Green Nexus yang dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia.
“Yang kami bangun bukan sekadar infrastruktur energi, tetapi sebuah model pembangunan desa pesisir yang mengintegrasikan energi bersih, air bersih, ekonomi masyarakat, dan pengurangan emisi karbon. Apabila berhasil diterapkan, model ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengembangan kawasan pesisir di berbagai daerah Indonesia,” pungkasnya.
***



