Badan Riset Nasional (BRIN) mendorong Asosiasi Dosen dan Peneliti Ilmu Komunikasi (ADPIKI), menjaga citra riset dari praktik penelitian palsu. Permintaan ini disampaikan Prof. Dr. Eng. Agus Haryono, Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), saat menjadi pembicara pada Webinar Research Corner ADPIKI dengan tema ‘Sosialisasi Dana Hibah Penelitian BRIN, Jumat (12/6/2026).
Permintaan tersebut merespons ramainya perbincangan riset palsu oleh akademisi asal Indonesia, tentang pneumonia pada International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark pada 17-21 Mei 2026. Menurut Agus Haryono, belum satupun asosiasi dosen dan peneliti merespons kasus tersebut.
“Selama ini belum ada asosiasi dosen dan peneliti memberikan reaksi terhadap hal hal yang sifatnya negatif yang bisa membuat citra negatif pada dosen dan peneliti,” imbuh Agus Haryono.
Selain mendorong ADPIKI menjadi lembaga yang turut menjaga citra riset, BRIN mengusulkan penguatan posisi peneliti dalam kelembagaan perguruan tinggi sebagaimana posisi peneliti dalam organisasi pemerintah. Agus Haryono meminta ADPIKI menjadi inisiator pembentukan skema kepegawaian fungsional peneliti di Perguruan Tinggi. “Fungsional peneliti bisa diadopsi untuk Perguruan Tinggi, skema ini memungkinkan peneliti bisa tetap mengajar,” terang Agus Haryono.
Dalam kegiatan webinar tersebut, Agus menyosialisasikan skema hibah riset BRIN yang dapat diikuti para dosen dan peneliti anggota ADPIKI. Di antara skema yang segara dibuka adalah hibah RIIM Kompetisi yang diberikan kepada institusi dan lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka mencari kebaruan (novelty) untuk menghasilkan invensi dan inovasi.
Topik riset yang dapat diusulkan antara lain, pangan, energi, kesehatan, air, industri strategis, ketahanan sosial, masyarakat, antariksa dan nuklir, serta tema atau topik lain selain yang ditetapkan. “Topik apa saja boleh, yang penting bisa kedepankan kebaruan, fungsi dan manfaat apa bagi kebijakan di Indonesia,” jelas Agus Haryono.
Setiap pengusul dibatasi maksimal tiga proposal, dengan indikator kinerja diterbitkan pada jurnal internasional bereputasi minimal Q3. Penerimaan proposal dibuka mulai tanggal 1-31 Juli 2026, proses seleksi administrasi, substansi dan review RAB Agustus-November, lalu penetapan SK Penerima Desember 2026. Selain RIIM Kompetisi, BRIN membuka hibah skema Start Up sebesar Rp 600 juta- Rp 700 juta selama masa inkubasi dua tahun. “Untuk mengawal hibah tersebut, kami juga membuka ruang kepada ADPIKI bisa menjadi reviewer untuk riset kami di BRIN,” imbuh Agus Haryono.
Ketua Umum ADPIKI Dr. Heri Budianto, menyambut baik ajakan BRIN untuk melibatkan dosen dan peneliti sebagai reviewer di BRIN. “Terima kasih Prof Agus Haryono, kami menyambut kerjasama dengan mengusulkan reviewer dari ADPIKI khususnya untuk bidang Ilmu Sosial, Humaniora, dan Televisi,” kata Heri Budianto.
Heri menyampaikan bahwa dua bulan perjalanan ADPIKI, terus berkomitmen untuk berkolaborasi dengan BRIN. Sebagai rumah bagi dosen dan peneliti, ADPIKI akan terus melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya peningkatan kapasitas dosen dan peneliti, seperti webinar dengan BRIN.
Heri Budianto berharap kegiatan ini dapat memperluas cakupan pembiayaan riset khususnya doaen dan peneliti ilmu komunikasi. Selama ini fokus pembiayaan lebih besar dari hibah dikti , sekarang dengan adanya adpiki, maka dosen dosen dan peneliti ilmu komunikasi dapat fokus juga dengan hibah BRIN.
***



