Di Washington, DC, AS terdapat lembaga US Library of Congress, yang dikenal sebagai perpustakaan terbesar di dunia, dengan lebih dari 184 juta koleksi. Koleksi tersebut mencakup sekitar 39 juta buku dan bahan cetak dalam 470 bahasa, 73 juta manuskrip, jutaan foto, peta, rekaman musik, dan arsip suara. Rak-rak bukunya membentang hingga sekitar 1.380 kilometer, dengan pertambahan koleksi sekitar 2 juta item setiap tahun. Tidak hanya besar, gedungnya juga dikenal sebagai salah satu yang paling indah di dunia, dengan dominasi marmer dan ornamen artistik karya seniman ternama Amerika.
Pada Rabu, 1 Juli 2026, Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 1973 (Fortuga ITB) berkunjung ke US Library of Congress guna mendonasikan buku-buku karya mereka, serta buku buku tentang Indonesia, untuk menambah koleksi buku buku di perpustakaan ini. Delegasi Fortuga ITB juga diperkuat empat Guru Besar, yaitu Prof. Adang Surachman, Prof. Lienda Aliwarga, Prof. Asri Nugrahanti dan Prof. Indroyono Soesilo, yang juga Duta Besar RI di Amerika Serikat. Delegasi Fortuga ITB, didampingi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Washington DC, Dr. Iip Ichsanudin dan diterima oleh Dr. Sarah Rhodes dari Congressional and Intergovernmental Office bersama para pustakawan US Library of Congress: Elizabeth Jarcy, Joshua Kueh dan Kay Qui.
Diantara ratusan juta koleksi US Library of Congress tersebut, sekitar 190.000 di antaranya berasal dari Indonesia. Koleksi ini mencakup manuskrip kuno, buku langka, rekaman audio-visual, hingga artefak teknologi perekaman suara. Data tahun 2021 menunjukkan bahwa lebih dari 117.000 koleksi Indonesia telah dikatalogkan dalam bagian koleksi Asia, mencakup berbagai bidang seperti ekonomi, politik, sejarah, ilmu pengetahuan, hingga sastra anak.
Jejak Indonesia juga terlihat dari koleksi tentang para pemimpin nasional. Terdapat lebih dari 1.100 buku tentang Presiden Soekarno, 918 buku tentang Presiden Soeharto, serta puluhan karya mengenai Presiden B.J. Habibie. Selain itu, American Folklife Center menyimpan berbagai rekaman dan dokumentasi Indonesia sejak tahun 1893 hingga 2009. Di katalog perpustakaan ini juga terdapat karya karya Fortuga ITB, diantaranya karya Dr.Hatta Rajasa (9 buku), karya Dr.Rizal Ramli (25 buku), karya Dr. Kusmayanto Kadiman (5 buku), karya Dr.Ali Herman Ibrahim (1 buku), karya Prof.Adang Surachman (1 buku) dan karya Prof.Indroyono Soesilo (19 buku).
Salah satu koleksi paling berharga adalah manuskrip Jawa beriluminasi tahun 1862 berjudul “Pangkat-pangkat caritanipun serat babad ing Tanah Jawi sedhaya.” Naskah ini mengisahkan sejarah Jawa dan penyebaran Islam, dihiasi ilustrasi artistik yang memperkaya nilai historis dan estetisnya.
Dalam kunjungan tersebut, Dubes Indroyono Soesilo mendorong penguatan kerja sama antara Library of Congress dan perpustakaan-perpustakaan di Indonesia, khususnya melalui pertukaran buku dan pengayaan koleksi. Dalam waktu dekat, Dubes Indroyono akan membuat surat edaran kepada para Rektor Universitas di Indonesia untuk mengirimkan buku buku karya Civitas Academica masing masing kampus ke perwakilan US Library of Congress di Jakarta untuk kemudian dikirimkan ke Washington DC.
Selain itu, akan digelar pertukaran buku buku dari US Library of Congress kepada perpustakaan perpustakaan di Indonesia. Melalui program ini maka referensi buku buku tentang Indonesia akan semakin banyak di US Library of Congress sehingga bisa dipakai rujukan bagi para ilmuwan yang akan mengadakan riset tentang Indonesia. Upaya ini sekaligus untuk lebih memperkenalkan Indonesia kepada publik Amerika Serikat dan Dunia.
Kehadiran koleksi Indonesia di US Library of Congress bukan sekadar angka, melainkan cerminan eksistensi bangsa dalam lanskap pengetahuan dunia. Di antara jutaan rak dan lembaran sejarah global, Indonesia turut berbicara—melalui buku, manuskrip, dan warisan intelektualnya.
***



