Pemerintah Ethiopia memperkuat upaya penyediaan benih pohon berkualitas guna mendukung program penanaman pohon terbesar di negara tersebut melalui peningkatan kapasitas para praktisi kehutanan dan pengelola perbenihan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan keberhasilan agenda restorasi hutan dan lanskap yang menjadi bagian dari Green Legacy Initiative (GLI), program penghijauan nasional yang diluncurkan sejak 2019.
Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan intensif mengenai pengadaan dan pengelolaan benih pohon yang berlangsung pada 26–28 Mei 2026. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Provincial of Adequate Tree Seed Portfolios in Ethiopia Project (PATSPO II) dan diikuti para profesional dari Ethiopian Forestry Development (EFD) yang terlibat langsung dalam pelaksanaan program penghijauan nasional di berbagai wilayah Ethiopia, termasuk Amhara, Oromia, dan Tigray.
Pelatihan menghadirkan sejumlah pakar kehutanan internasional dan nasional yang membahas strategi penyediaan benih unggul, pengelolaan sumber benih, hingga teknik sertifikasi dan penyimpanan. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas bibit yang digunakan dalam kegiatan restorasi hutan dan penanaman pohon berskala besar.
Konsultan kehutanan asal Denmark yang terlibat dalam pelatihan tersebut, Lars Schmidt, mengatakan pihaknya diminta membantu menyusun paket pelatihan khusus mengenai benih pohon untuk mendukung Green Legacy Initiative.
“Kami diminta EFD menyelenggarakan pelatihan mengenai benih pohon untuk GLI. Program ini sangat penting karena para peserta terlibat langsung dalam implementasi Green Legacy Initiative. Masukan dari peserta akan digunakan untuk menyempurnakan pelatihan lanjutan yang akan menjangkau berbagai wilayah di Ethiopia,” ujarnya.
Sementara itu, koordinator proyek PATSPO II, Wubalem Tadesse, mengungkapkan bahwa salah satu tantangan utama yang dihadapi sektor kehutanan Ethiopia adalah rendahnya kualitas benih yang tersedia. Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh penggunaan sumber benih yang tidak memadai, koordinasi yang belum optimal antar-pemangku kepentingan, serta keterbatasan kapasitas teknis dalam proses pengumpulan, pengujian, penyimpanan, dan sertifikasi benih.
“Masalah terbesar adalah pengumpulan benih dari sumber yang kurang tepat sehingga kualitas genetiknya rendah. Selain itu, masih terdapat keterbatasan koordinasi dan kapasitas teknis yang memengaruhi kualitas benih yang beredar,” kata Wubalem.
Melalui proyek PATSPO, Ethiopia berupaya memperbaiki kondisi tersebut dengan mengidentifikasi dan mendaftarkan sumber benih unggul di berbagai wilayah. Hingga saat ini, program tersebut telah menetapkan lebih dari 60 kebun benih dan lebih dari 80 kawasan sumber benih sebagai pemasok utama benih berkualitas untuk kebutuhan restorasi hutan.
Salah satu peserta pelatihan, Emnet Wolde-Giorgis, menilai kegiatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai pentingnya kualitas genetik benih dalam menentukan keberhasilan pertumbuhan tanaman di lapangan.
“Saya memahami bahwa kualitas genetik benih sangat menentukan keberhasilan bibit ketika ditanam. Pelatihan ini membantu kami memahami cara memastikan mutu benih sejak awal,” ujarnya.
Peserta lainnya, Kidane Tadesse, mengatakan materi pelatihan juga memberikan manfaat praktis dalam perencanaan produksi bibit. Menurutnya, pemahaman mengenai kebutuhan benih dapat membantu menghindari pemborosan maupun kekurangan pasokan bibit untuk kegiatan penghijauan.
Di sisi lain, perwakilan EFD, Dr. Teshome Tamrat, menegaskan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kapasitas para pelatih dan praktisi kehutanan di Ethiopia.
“Setiap tahun Ethiopia mengumpulkan benih dalam jumlah besar untuk mendukung kegiatan penanaman pohon. Karena itu, kualitas benih harus menjadi prioritas agar hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan restorasi lingkungan,” ujarnya.
Pemerintah Ethiopia menilai kebutuhan benih berkualitas akan terus meningkat seiring meluasnya program penghijauan nasional. Melalui Green Legacy Initiative, negara tersebut telah menanam miliaran bibit pohon dengan melibatkan lebih dari 20 juta warga sebagai bagian dari upaya pemulihan lingkungan dan ketahanan iklim.
***



