Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk membangun tata kelola pasar keanekaragaman hayati global yang berintegritas, adil, dan inklusif melalui partisipasi aktif dalam forum internasional Making Nature Credits Market Work in Asia and the Pacific pada ajang London Climate Action Week di London, Inggris. Dalam forum tersebut, Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Moh Jumhur Hidayat, memimpin delegasi Indonesia sekaligus menyampaikan posisi resmi pemerintah terkait pengembangan standar kredit keanekaragaman hayati di tingkat global.
Pada forum yang dihadiri para pemangku kepentingan internasional di bidang pendanaan alam itu, Menteri Jumhur menegaskan bahwa pengembangan instrumen ekonomi lingkungan harus menempatkan masyarakat adat dan komunitas lokal sebagai penerima manfaat utama karena mereka menjadi garda terdepan dalam menjaga ekosistem.
“Izinkan saya menegaskan bahwa fondasi utama dari kredit keanekaragaman hayati yang sukses adalah pemberian manfaat yang adil dan merata bagi komunitas lokal dan masyarakat adat yang melakukan kerja keras nyata dalam konservasi di lapangan,” ujar Menteri Jumhur.
Ia menjelaskan, kehadiran Indonesia dalam forum tersebut merupakan tindak lanjut dari upaya pemerintah membangun tata kelola instrumen ekonomi hijau yang kredibel sekaligus respons atas undangan khusus dari Co-Chairs International Advisory Panel on Biodiversity Credits (IAPB), Dame Amelia Fawcett dan Sylvie Goulard. Menurutnya, undangan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan instrumen ekonomi lingkungan yang tengah disusun Indonesia mendapat perhatian dan pengakuan di tingkat internasional.
Dalam kesempatan itu, Indonesia memaparkan pengembangan skema multi-kredit keanekaragaman hayati yang tidak hanya menghitung luas tutupan vegetasi, tetapi juga memberikan nilai ekonomi terhadap perlindungan spesies endemik beserta habitatnya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan mekanisme pendanaan yang lebih komprehensif bagi upaya konservasi sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi para penjaga alam.
Dame Amelia Fawcett menilai langkah Indonesia memiliki arti strategis bagi pengembangan sistem pendanaan alam dunia. Menurutnya, pendekatan yang dikembangkan Indonesia berpotensi menjadi contoh bagi negara-negara lain.
“Apa yang tengah dilakukan oleh Indonesia memiliki dampak yang sangat krusial dan melampaui batas-batas negaranya. Langkah maju yang diambil oleh Pemerintah Indonesia bersama Satuan Tugas Kredit Keanekaragaman Hayati dalam merancang pasar berintegritas tinggi dan inklusif yang mampu memobilisasi pendanaan baru dan tambahan bagi alam serta para penjaganya harus menjadi model yang patut dicontoh oleh negara lain, baik di tingkat regional maupun global,” ujar Amelia.
Ia juga menyoroti pentingnya kekayaan ekologi Indonesia bagi dunia. Menurut Amelia, keberadaan hutan tropis, mangrove, dan terumbu karang Indonesia menjadikan negara ini sebagai salah satu aktor utama dalam menjaga stabilitas iklim global. IAPB, lanjutnya, siap terus mendukung Indonesia sebagai mitra pengetahuan dalam pengembangan kredit keanekaragaman hayati menuju berbagai agenda internasional mendatang.
Sebagai bagian dari penguatan kepemimpinan regional, Menteri Jumhur turut menginisiasi pembentukan Asia-Pacific Roundtable on Biodiversity Credits. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi negara-negara Asia-Pasifik untuk menyelaraskan regulasi, berbagi pengalaman teknis, serta memperkuat posisi kawasan dalam penyusunan standar pasar keanekaragaman hayati global.
Dalam menjalankan mandat sebagai koordinator utama, KLH/BPLH juga terus membangun kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Kehutanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bappenas, pelaku usaha, organisasi masyarakat sipil, hingga perwakilan masyarakat adat guna memastikan pengembangan instrumen ekonomi lingkungan berjalan secara inklusif.
Menutup penyampaiannya, Menteri Jumhur mengajak komunitas internasional menjadikan kredit keanekaragaman hayati sebagai instrumen yang mampu menghasilkan manfaat nyata bagi alam dan manusia.
“Kini saatnya bagi ekonomi kita untuk akhirnya berinvestasi kembali pada alam. Mari kita bekerja sama untuk memastikan bahwa kredit keanekaragaman hayati melampaui sekadar instrumen keuangan dan menjadi kekuatan nyata bagi kebangkitan ekologi dan kesejahteraan manusia,” pungkasnya.
***



