25 Juni 2026 di Washington DC berlangsung pertemuan antara US Chamber of Commerce, AmCham Indonesia, serta Duta Besar RI Indroyono Soesilo bersama jajaran KBRI Washington DC.
Pertemuan membahas: “Bagaimana Indonesia bisa naik kelas dalam rantai pasok industri global?”. Sejumlah tokoh hadir dalam pertemuan ini, antara lain John Goyer (Vice President US Chamber of Commerce untuk US-ASEAN Business Committee), Donna Pribadi (AmCham Indonesia), Indra Duivenvoorde (Boeing Indonesia), perwakilan Nike, serta Hamilton Beach, juga perwakilan Freeport – McMoran.
Kehadiran mereka merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Door Knock Meeting American Chamber of Commerce Asia Pacific, yang bertujuan memperkuat jejaring bisnis lintas negara.
Pesannya jelas—Indonesia bukan sekadar pasar, tetapi mitra produksi. Salah satu fokus utama diskusi adalah bagaimana Indonesia bisa semakin terintegrasi dalam rantai pasok industri maju Amerika Serikat.
Dalam industri penerbangan misalnya, satu pesawat Boeing 737 terdiri dari sekitar 2 juta komponen, sedang Boeing 777 membutuhkan hingga 3 juta komponen.
Artinya, peluang bagi industri Indonesia untuk terlibat sangat besar. Kerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia menjadi bukti bahwa langkah ini sudah berjalan. Hubungan Boeing Corp. dengan Indonesia sendiri sudah berlangsung selama 78 tahun, sejak Indonesia membeli pesawat RI 001 Seulawah, jenis DC-3 Dakota pada tahun 1948 lalu.
Ke depan, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penumpang pesawat terbesar ke-4 di dunia pada tahun 2036. Dengan populasi sekitar 280 juta jiwa, tingkat ketersediaan kursi pesawat saat ini baru sekitar 28%. Artinya, Indonesia membutuhkan setidaknya 600 pesawat baru sekelas Boeing 737.
Boeing mendukung pembangunan ekosistem industri penerbangan secara menyeluruh di Indonesia, termasuk pengembangan sumber daya manusia. Salah satunya melalui kerja sama dengan ITB dalam program Boeing–ITB University Leadership Development. Juga kerjasama dengan Pertamina dalam pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF), memanfaatkan bahan baku berbasis minyak nabati sebagai campuran avtur yang lebih ramah lingkungan.
Di sektor lain, Nike, telah menjadikan Indonesia Indonesia sebagai salah satu basis produksi sepatu utama, dengan tenaga kerja sekitar 500 ribu orang dan 90% produk Nike ditujukan untuk ekspor.
Sementara itu, Hamilton Beach tengah membangun pabrik di Kawasan Industri Batang, Jawa Tengah, untuk memproduksi peralatan elektronik rumah tangga. Ini menambah daftar investasi manufaktur yang terus berkembang di Indonesia.
Di sektor energi dan sumber daya alam, perusahaan besar seperti ExxonMobil dan Freeport-McMoRan juga tetap menjadi pemain penting dalam kerja sama ekonomi bilateral.
Dalam pertemuan tadi, para investor tetap menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara prioritas untuk berinvestasi. Namun, investor juga menyampaikan catatan penting, yaitu: kepastian regulasi, kemudahan berusaha, dan tentang hambatan non-tarif yang menjadi faktor penentu dalam persaingan dengan negara tetangga.
John Goyer mengharapkan agar pertemuan US–Indonesia Investment Summit, yang akan digelar di Jakarta pada Oktober 2026 mendatang, dapat menghasilkan kerja sama konkret dan penandatanganan kontrak antara perusahaan Amerika dan Indonesia. Ia juga mengundang pelaku usaha Indonesia untuk hadir dalam forum B-20 di Washington DC, pada 9–11 November 2026, yang akan berlangsung bersamaan dengan KTT G20.
Dari sisi Indonesia, pemerintah menawarkan potensi besar—mulai dari pasar domestik yang terus tumbuh hingga ekonomi digital, yang pada tahun 2023 mencapai USD 82 milyar, lalu meningkat tajam, mencapai USD 99 miliar pada 2025. Duta Besar RI Indroyono Soesilo menyambut positif perkembangan kerja sama ini.
Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki banyak talenta yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat dan siap berkontribusi dalam mendukung investasi dan transfer pengetahuan. Untuk mendukung investasi, pemerintah Indonesia juga terus melakukan pembenahan regulasi. Di antaranya melalui PP No. 28 Tahun 2025 tentang Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, serta menyediakan Blue Book Bappenas, yang memuat daftar proyek prioritas yang ditawarkan kepada investor asing, termasuk dari Amerika Serikat.
Secara keseluruhan, hubungan ekonomi Indonesia–Amerika Serikat terus meningkat. Data US Trade Representative memperlihatkan nilai perdagangan kedua negara pada tahun 2025 mencapai USD 45,7 miliar. Angka ini mencerminkan kuatnya hubungan bilateral yang tidak hanya berbasis perdagangan, tetapi juga investasi, teknologi, dan pembangunan ekosistem industri masa depan.
***



