Industri pulp dan kertas Indonesia menyatakan kesiapan untuk mendukung pengembangan pasar karbon kehutanan yang kredibel, transparan, dan berintegritas tinggi. Dukungan tersebut disampaikan dalam Business Forum on Carbon Market yang digelar di New York, Amerika Serikat, Senin (11/5/2026), sebagai bagian dari rangkaian kegiatan United Nations Forum on Forests 2026. Forum ini mempertemukan pemerintah, pelaku usaha kehutanan, investor internasional, asosiasi perdagangan emisi, serta mitra strategis untuk membahas peluang pengembangan proyek karbon dan pembiayaan berbasis alam (nature finance) di Indonesia.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki babak baru pengelolaan hutan, di mana nilai ekonomi hutan tidak lagi hanya bertumpu pada kayu, tetapi juga pada karbon, keanekaragaman hayati, jasa lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 yang memberikan landasan hukum yang lebih jelas bagi pengembangan perdagangan karbon sektor kehutanan serta memperkuat implementasi Multiusaha Kehutanan.
Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia Suhendra Wiriadinata mengatakan bahwa regulasi tersebut menjadi fondasi penting bagi dunia usaha untuk memperluas kontribusi terhadap target penurunan emisi nasional sekaligus memperkuat daya saing industri pulp dan kertas Indonesia di pasar global.
“Industri pulp dan kertas Indonesia menyambut baik terbitnya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 yang memberikan kepastian regulasi dan kerangka tata kelola yang lebih jelas bagi pengembangan perdagangan karbon sektor kehutanan. Bagi industri kami, karbon merupakan nilai tambah yang melengkapi, bukan menggantikan, peran utama sektor ini dalam menghasilkan produk berbasis serat terbarukan yang dibutuhkan masyarakat global,” ujar Suhendra.
Ia menjelaskan bahwa melalui pengelolaan hutan tanaman industri yang berkelanjutan, efisiensi energi, penggunaan energi terbarukan, penerapan ekonomi sirkular, serta inovasi produk yang dapat diperbarui dan didaur ulang, industri pulp dan kertas terus memperkuat kontribusinya dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon.
“Produk pulp dan kertas berbasis serat terbarukan merupakan bagian penting dari solusi iklim karena dapat menggantikan material berbasis fosil, mendukung pengurangan emisi, serta menjawab kebutuhan pasar global terhadap produk yang lebih ramah lingkungan,” katanya.
Suhendra menambahkan bahwa pasar karbon yang kredibel dapat mendorong investasi yang lebih besar dalam restorasi gambut, rehabilitasi hutan, konservasi keanekaragaman hayati, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan operasional. Keberhasilan pasar karbon, menurutnya, sangat bergantung pada integritas proyek, transparansi pengukuran, kejelasan metodologi, serta penerimaan pasar domestik dan internasional.
“APKI bersama seluruh anggota berkomitmen mendukung pengembangan kredit karbon berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional, memberikan manfaat lingkungan yang nyata, sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dan sosial. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam perdagangan karbon berbasis kehutanan di tingkat global,” ujar Suhendra.
Forum bisnis tersebut turut dihadiri perwakilan pemerintah Indonesia, pelaku usaha kehutanan, investor internasional, asosiasi perdagangan emisi, serta sejumlah mitra strategis dari Amerika Serikat. Melalui forum ini, Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat posisi sektor kehutanan sebagai bagian penting dalam agenda mitigasi perubahan iklim global, sekaligus membuka peluang kolaborasi investasi hijau untuk mendukung pencapaian target FOLU Net Sink 2030 dan pembangunan ekonomi berkelanjutan.
***



