Di Forum Dunia, Indonesia Tawarkan Pusat Gambut dan Mangrove sebagai Solusi Krisis Iklim

Latest

- Advertisement -spot_img

Indonesia menegaskan komitmennya untuk memperkuat kepemimpinan dalam agenda kehutanan dan iklim global melalui pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi, penguatan pusat kerja sama gambut tropis, serta pengembangan pusat mangrove dunia. Komitmen tersebut disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam Ministerial Event Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) bertajuk “From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32” yang berlangsung di Kew Gardens, London, Inggris, Selasa (23/6).

Dalam forum yang mempertemukan para pemimpin sektor kehutanan dan iklim dari berbagai negara tersebut, Indonesia menekankan pentingnya memastikan berbagai komitmen global terkait perlindungan hutan tidak berhenti pada tingkat ambisi, tetapi diwujudkan melalui aksi nyata yang didukung kemitraan strategis dan investasi berkelanjutan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan tantangan utama saat ini adalah menerjemahkan berbagai target iklim dan kehutanan ke dalam langkah konkret yang memberikan dampak langsung di lapangan.

“Tantangan global saat ini bukan lagi sekadar meningkatkan ambisi, melainkan memastikan ambisi tersebut diterjemahkan menjadi aksi nyata yang terukur melalui kemitraan yang kuat, kerja sama yang praktis, dan investasi yang berkelanjutan,” ujar Raja Juli Antoni.

Dalam forum tersebut, Indonesia memaparkan tiga agenda strategis yang menjadi kontribusi utama dalam mendukung tata kelola kehutanan global. Agenda pertama adalah penguatan pasar karbon berintegritas tinggi yang dinilai mampu menjadi instrumen pembiayaan penting bagi konservasi, restorasi ekosistem, pengelolaan hutan lestari, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Pemerintah terus memperkuat tata kelola perdagangan karbon melalui penyempurnaan regulasi nasional guna menjamin kepastian hukum, transparansi, serta kredibilitas lingkungan. Indonesia meyakini pasar karbon yang kredibel dapat membantu menjawab kebutuhan pendanaan global dalam mendukung perlindungan dan pengelolaan hutan secara berkelanjutan.

Agenda kedua adalah penguatan peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai wadah kerja sama internasional dalam pengelolaan lahan gambut tropis. Dengan sekitar 13 juta hektare gambut tropis, Indonesia memiliki pengalaman dan kapasitas yang signifikan dalam mengelola salah satu penyimpan karbon terbesar dunia sekaligus ekosistem penting bagi ketahanan iklim dan keanekaragaman hayati.

Melalui forum tersebut, Indonesia mengajak negara-negara anggota FCLP untuk memperluas kolaborasi melalui ITPC guna mempercepat pengembangan solusi berbasis sains, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, serta inovasi dalam pengelolaan gambut tropis.

Selain itu, Indonesia juga mendorong penguatan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional yang mendukung pengembangan kebijakan, penelitian, inovasi, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kapasitas pengelolaan mangrove.

Sebagai negara yang memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove atau hampir seperempat dari total mangrove dunia, Indonesia menawarkan pengalaman dan praktik terbaik yang dapat dimanfaatkan negara-negara lain dalam mengembangkan solusi berbasis alam untuk menghadapi perubahan iklim.

Penguatan WMC dinilai penting untuk mendukung upaya konservasi keanekaragaman hayati, meningkatkan ketahanan wilayah pesisir, serta memperkuat pembangunan ekonomi masyarakat yang bergantung pada ekosistem mangrove.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia juga menyatakan kesiapan untuk memperdalam keterlibatan dalam Forest and Climate Leaders’ Partnership dan memperluas kerja sama dengan negara-negara mitra dalam pengembangan solusi kehutanan yang inklusif, ambisius, dan dapat diterapkan secara efektif.

Kehadiran Indonesia pada forum tersebut sekaligus menegaskan posisi strategis Indonesia sebagai negara pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang tidak hanya berfokus pada perlindungan sumber daya hutannya sendiri, tetapi juga aktif berkontribusi menghadirkan solusi global bagi pencapaian target iklim, konservasi keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.

Pemerintah menilai tantangan perubahan iklim, degradasi lahan, dan hilangnya keanekaragaman hayati hanya dapat diatasi melalui kemitraan internasional yang kuat. Karena itu, Indonesia mengajak seluruh negara anggota FCLP untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pasar karbon berintegritas, pengelolaan gambut tropis, dan konservasi mangrove sebagai bagian dari solusi global yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles