Operasi Delapan Hari Berhasil Padamkan Kebakaran TPA Jatiwaringin, Kemenhut Siapkan Langkah Pencegahan Nasional

Latest

- Advertisement -spot_img

Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyampaikan apresiasi kepada personel Manggala Agni dan jajaran Penegakan Hukum (Gakkum) Kementerian Kehutanan atas keberhasilan operasi pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang. Keberhasilan tersebut dinilai menjadi bukti efektivitas kolaborasi lintas sektor dalam pengendalian kebakaran sekaligus memperkuat upaya menjaga kualitas lingkungan dari ancaman asap.

Apresiasi tersebut disampaikan Wamenhut saat kegiatan Evaluasi dan Pembelajaran Operasi Pemadaman Kebakaran di TPA Jatiwaringin yang dirangkaikan dengan penyerahan piagam penghargaan kepada personel Manggala Agni di Jakarta, Senin (13/7/2026).

Menurut Rohmat, keberhasilan penanganan kebakaran merupakan implementasi arahan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni yang menekankan pentingnya sinergi antarlembaga dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan maupun kebakaran di kawasan lainnya.

“Penanganan kebakaran hutan dan lahan membutuhkan kolaborasi dari para pihak dan tidak boleh ada ego sektoral,” tegas Rohmat Marzuki.

Operasi pemadaman berlangsung selama delapan hari, sejak 3 hingga 10 Juli 2026, dan berhasil memadamkan kebakaran secara menyeluruh. Dari total luas TPA Jatiwaringin sekitar 33 hektare, sekitar 15 hektare terdampak kebakaran.

Sebanyak 41 personel Manggala Agni dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Wilayah Jawa, Bali, Nusra, dan Sulawesi diterjunkan ke lokasi. Selama operasi, tim menghabiskan sekitar 9,4 juta liter air untuk proses pembasahan dan pemadaman titik api.

Keberhasilan operasi didukung penerapan Manajemen 5M, yakni pengelolaan area melalui pemetaan berkala, pengelolaan sumber air, pengaturan sumber daya manusia, optimalisasi sarana dan prasarana, serta penguatan dukungan logistik. Pendekatan tersebut memungkinkan proses pemadaman berjalan lebih efektif meski menghadapi kondisi lapangan yang kompleks.

Tim juga menerapkan metode pemadaman yang disesuaikan dengan karakteristik material sampah di TPA, yang berbeda dengan kebakaran lahan gambut. Pendekatan tersebut mempercepat proses isolasi area terbakar meski petugas harus menghadapi tantangan berupa asap pekat, gas metana, hingga kerusakan peralatan akibat material tajam di lokasi. Seluruh personel yang terlibat dinyatakan dalam kondisi sehat berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan setelah operasi berakhir.

Keberhasilan operasi ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemerintah Kabupaten Tangerang, serta unsur TNI dan Polri.

Menghadapi puncak musim kemarau yang diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, Kementerian Kehutanan menegaskan akan mengedepankan langkah pencegahan. Berdasarkan pengalaman kebakaran sejumlah TPA pada 2023 dan proyeksi musim kering dari BMKG, Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Lingkungan Hidup akan meningkatkan koordinasi untuk memetakan lokasi TPA yang berpotensi mengalami kebakaran sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih dini.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles