Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) bersama Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kementerian Kehutanan dan sejumlah mitra mendeklarasikan komitmen bersama untuk mengembangkan Jalur Pendakian Ajisaka sebagai jalur pendakian berstandar nasional. Deklarasi yang berlangsung di Pintu Pendakian Ajisaka, Resor Pengelolaan Taman Nasional Wilayah Gunung Salak I, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 23 Juni 2026 itu menjadi langkah awal memperkuat tata kelola wisata alam yang aman, berkualitas, dan tetap mengedepankan fungsi konservasi.
Komitmen tersebut melibatkan Yayasan Gunung Parama Indonesia (YGI), Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), CV Siliwangi Adventure, Pemerintah Desa Tamansari, kelompok masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan. Program ini merupakan bagian dari inisiatif Bedah Gunung yang diinisiasi Kementerian Kehutanan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan jalur pendakian di kawasan konservasi.
Melalui deklarasi tersebut, para pihak sepakat menyusun standar operasional prosedur (SOP), memperkuat kelembagaan, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, melakukan audit jalur, mengembangkan sarana dan prasarana, menerapkan layanan berbasis digital, serta melakukan pemantauan dan evaluasi secara berkelanjutan.
Sebagai tindak lanjut, Jalur Ajisaka akan diaudit menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 8748:2019 tentang Pengelolaan Pendakian Gunung. Hasil audit akan menjadi dasar penyempurnaan jalur, termasuk penataan lintasan pendakian, peningkatan fasilitas keselamatan, pembangunan gapura, pos tiket, shelter, toilet, papan informasi, hingga sistem digital untuk pelayanan dan pemantauan aktivitas pendakian.
Kepala Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kementerian Kehutanan, Johan Setiawan, mengatakan Program Bedah Gunung dirancang untuk meningkatkan kualitas tata kelola wisata pendakian melalui penerapan standar pengelolaan dan penguatan aspek keselamatan.
“Program Bedah Gunung bertujuan mendorong peningkatan kualitas pengelolaan wisata pendakian melalui penerapan standar, penguatan kapasitas pengelola, peningkatan keselamatan, dan pelibatan berbagai pemangku kepentingan. Kami mendukung pengembangan Jalur Ajisaka menjadi jalur pendakian yang aman, berkualitas, berstandar nasional, dan tetap menjaga fungsi konservasi kawasan,” ujarnya.
Kepala Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Didid Sulastiyo, menegaskan pengembangan wisata pendakian harus tetap sejalan dengan fungsi utama taman nasional sebagai kawasan konservasi.
“Melalui deklarasi ini, kami ingin memperkuat kolaborasi para pihak untuk mewujudkan tata kelola pendakian yang profesional, berstandar nasional, dan berkelanjutan, sehingga pengunjung memperoleh pengalaman yang aman tanpa mengurangi fungsi perlindungan kawasan,” katanya.
Ketua Yayasan Gunung Parama Indonesia, Andi Ronikus, menilai deklarasi tersebut menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi pengelolaan jalur pendakian di kawasan konservasi.
“Kolaborasi yang kuat akan menghasilkan jalur pendakian yang profesional, aman, dan berkelanjutan sehingga mampu memberikan pengalaman terbaik bagi pendaki sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia menekankan bahwa penerapan standar pendakian harus dibarengi peningkatan kompetensi para pemandu, porter, relawan, dan pengelola lapangan agar kualitas layanan dan aspek keselamatan terus meningkat.
Perwakilan masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan Jalur Ajisaka juga menyambut baik kolaborasi tersebut. Mereka berharap pengembangan jalur pendakian tidak hanya meningkatkan kualitas wisata alam, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui keterlibatan aktif dalam pengelolaan kawasan.
Dalam pengembangannya, Jalur Ajisaka akan mengedepankan prinsip Zero Waste dan Zero Accident sebagai upaya membangun budaya pendakian yang bertanggung jawab, meminimalkan timbulan sampah, meningkatkan keselamatan pendaki, sekaligus menjaga kelestarian ekosistem kawasan konservasi. Kementerian Kehutanan bersama seluruh mitra menargetkan Jalur Ajisaka dapat menjadi model nasional pengelolaan wisata pendakian yang aman, profesional, dan berkelanjutan.
***



