Diskusi dengan pendekatan multidisipliner menjadi pembahasan pada The 6th International Symposium on Earth, Energy, Environmental Science and Sustainable Development 2025, yang diselenggarakan Journal of Environmental Science and Sustainable Development (JESSD) secara daring pada Jumat (7/11/2025).
Sebanyak 402 hasil penelitian dari 15 negara dikurasi untuk menghadirkan perspektif global tentang isu lingkungan, energi, dan pembangunan berkelanjutan.
Para peserta berasal dari berbagai negara, antara lain Filipina, Indonesia, Vietnam, Uzbekistan, Rusia, Malaysia, Jepang, Kyrgyzstan, Taiwan, Australia, Irlandia, Belanda, Polandia, Thailand, dan Turki.
Acara dibuka oleh Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.T. selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan. “Kita berbicara tentang harmonisasi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan kearifan lokal yang telah menjaga alam lintas generasi. Integrasi ketiga hal tersebut adalah kunci keberlanjutan,” ujarnya.
Pada sesi Keynote Speaker, dihadirkan dua orang pembicara. Dr. Mari E. Mulyani dari University of Oxford mengungkapkan perlunya untuk mengakui pengetahuan masyarakat adat sebagai otoritas epistemik yang setara dengan ilmu pengetahuan modern agar konservasi menjadi lebih inklusif dan efektif.
Selain itu, Dr. Fachruddin Tukuboya memaparkan hasil penelitiannya tentang kearifan lokal Suku Togutil di Halmahera dengan kalender perburuan tradisional dan praktik pemanfaatan satwa secara selektif yang menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Simposium dilanjutkan dengan presentasi hasil riset para peserta dari berbagai disiplin ilmu. Diskusi meliputi isu energi terbarukan, konservasi keanekaragaman hayati, tata kelola lingkungan, perubahan iklim, hingga inovasi berbasis komunitas.
Simposium ini dilaksanakan sebagai bentuk komitmen JESSD sebagai jurnal ilmiah terindeks Scopus. Dengan kompleksnya permasalahan lingkungan yang melibatkan berbagai pihak, JESSD berharap simposium ini menjadi platform pengembangan ilmu yang berdampak nyata pada lingkungan dan masyarakat.
***



