Musim panas di Amerika Serikat selalu identik dengan dua hal: liburan dan layar lebar. Saat suhu meningkat, gedung-gedung bioskop justru menjadi tempat “sejuk” favorit masyarakat untuk menikmati deretan film terbaru dari Hollywood. Dari film aksi spektakuler hingga drama menyentuh, industri film Amerika kembali menggeliat, sekaligus memulai langkah panjang menuju puncak penghargaan paling bergengsi di dunia perfilman: Academy Awards atau Oscar.
Di balik gemerlap musim panas ini, Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS) di Beverly Hills mulai melakukan penilaian terhadap film-film yang tayang. Proses ini akan bermuara pada malam puncak Oscar setiap bulan Maret di Dolby Theatre, Hollywood—sebuah perhelatan megah yang mempertemukan bintang film, sutradara, dan pelaku industri dari seluruh dunia.
Bukan hanya film Hollywood, berbagai kategori seperti film internasional, dokumenter, hingga film pendek juga turut dipertandingkan. Hanya karya terbaik yang berhak membawa pulang patung emas yang menjadi simbol tertinggi prestasi sinema global.
Namun, pesona film musim panas tidak hanya milik Hollywood. Di Washington, DC, suasana sinematik juga terasa melalui EuroAsia Shorts, sebuah festival film pendek yang unik dan terbuka untuk publik. Festival ini merupakan kolaborasi berbagai kedutaan besar dan pusat kebudayaan dari Asia dan Eropa, menghadirkan film-film lintas negara yang diputar secara gratis, lengkap dengan diskusi dan resepsi setelahnya.
Pada tahun 2026, EuroAsia Shorts mengangkat tema “Past/Present/Future” dan berlangsung pada minggu kedua Juni. Festival ini melibatkan berbagai mitra internasional, seperti Austrian Cultural Forum, Goethe-Institut, Embassy of Spain, Italian Cultural Institute, Japan Information and Culture Center, Korean Cultural Center, hingga Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Salah satu momen menarik adalah Austrian-Indonesian Partner Film Night yang digelar pada 8 Juni 2026 di Kedutaan Besar Austria di Washington, DC. Acara ini juga menandai 20 tahun penyelenggaraan EuroAsia Shorts dan berhasil menarik sekitar 500 penonton.
Dari Austria, ditampilkan film Die Gemeinen Kleinigkeiten yang mengangkat perjuangan menurunkan berat badan dengan pendekatan humanis, serta Lebenslang yang mengisahkan Daniel Langbein dalam menelusuri sejarah kakeknya, seorang penyintas kamp konsentrasi Auschwitz pada Perang Dunia II.
Sementara itu, Indonesia menghadirkan dua karya yang sarat makna. Film Kepaten Obor karya Lukman Hakim mengangkat kisah Betari yang menemukan kembali ibunya di lereng Gunung Bromo, dalam balutan tradisi Kasodo yang sakral. Film ini menyoroti tema keluarga, kehilangan, dan penerimaan.
Film kedua, Daly City karya sineas diaspora Indonesia Nick Hartanto, justru menawarkan perspektif berbeda. Dengan pendekatan komedi-drama autobiografis, film ini bercerita tentang seorang anak Indonesia yang mencoba menemukan jati dirinya di Amerika Serikat. Dalam satu adegan yang sederhana namun bermakna, ia dan ibunya membawa makanan Chinese takeout ke acara gereja dan menyebutnya sebagai masakan Indonesia—sebuah simbol kecil dari proses adaptasi dan pencarian identitas.
Melalui mata seorang anak, Daly City menggambarkan isu yang lebih besar: asimilasi budaya, stereotip minoritas, dan makna “American Dream”. Film ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menyentuh sisi emosional penonton tentang keluarga dan perjuangan imigran.
Menariknya, Daly City telah masuk dalam kategori Oscar-qualifying, membuka peluang untuk bersaing di ajang Academy Awards, meskipun masih harus melewati seleksi ketat untuk masuk lima besar nominasi. Saat ini, baru dua film pendek Indonesia yang mencapai tahap ini, yaitu Daly City dan Anak Macan karya Amar Haikal.
Upaya membawa film Indonesia ke panggung Oscar sebenarnya telah lama dilakukan, dengan sejumlah judul seperti Marlina: Si Pembunuh Empat Babak, Ngeri-Ngeri Sedap, hingga Surat dari Praha. Meski belum menembus nominasi utama, langkah-langkah ini menunjukkan konsistensi dan potensi besar perfilman Indonesia.
Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang turut hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya terus mendorong film Indonesia ke level global. Ia menilai industri perfilman merupakan bagian penting dari ekonomi kreatif yang sangat menjanjikan.
Sebagai perbandingan, industri film Amerika Serikat mencatat omzet sekitar USD 8,75 miliar pada 2024, jauh di atas Indonesia yang berada di kisaran USD 392 juta. Namun, dengan populasi lebih dari 280 juta dan tingkat apresiasi tinggi terhadap film lokal—sekitar 65% penonton Indonesia menyukai film dalam negeri—potensi pertumbuhan industri ini sangat besar.
EuroAsia Shorts 2026 menjadi bukti bahwa film bukan sekadar hiburan, tetapi juga jembatan budaya dan identitas. Dari Washington, DC, hingga Hollywood, dari layar pendek hingga panggung Oscar, sinema terus menghubungkan cerita-cerita manusia dari berbagai penjuru dunia—termasuk Indonesia, yang perlahan namun pasti mulai mencuri perhatian global.
***



