Mulai tahun 2041 mendatang, saham Indonesia di Pertambangan Tembaga, Freeport Indonesia, di Papua, akan meningkat dari 51% menjadi 63%. Bukan hanya saham yang berpindah tangan, tapi juga kemampuan sumberdaya manusia-nya.
Dari sekitar 27 ribu pekerja, lebih dari 40% adalah Orang Asli Papua, dan 97% karyawan adalah Warga Negara Indonesia. Talenta Papua kini tak hanya di lini teknis: sembilan orang menduduki kursi direktur dan lebih dari 100 di posisi manajerial pun dipimpin profesional Indonesia, dengan Tony Wenas, sebagai Presiden Direktur PT.Freeport Indonesia.
Dalam Pertemuan antara Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, dengan CEO Freeport-McMoRan, Kathleen Quirk, di Markas Besar Freeport di Phoenix, Arizona, pada 21 Mei 2026, ditegaskan kembali bahwa kemitraan jangka panjang antara Indonesia dan raksasa tambang Amerika itu kian setara.
Kemampuan sumberdaya manusia Indonesia dan alih teknologi pertambangan akan semakin ditingkatkan, termasuk Freeport membuka kesempatan bagi para sarjana Indonesia lulusan Universitas Universitas di AS untuk magang di industri pertambangan raksasa ini.
Hampir sembilan dekade sejak geolog Belanda Jean Jacques Dozy menemukan “gunung bijih” Ertsberg pada 1936, tambang tembaga dan emas raksasa di Papua kini semakin menjadi milik Indonesia.
Setelah divestasi bersejarah 2018, kepemilikan Indonesia melalui MIND ID melonjak dari 9,36% menjadi 51,23%. Babak baru dibuka pada Februari 2026: lewat perpanjangan izin operasi hingga 2061, Freeport-McMoRan sepakat mengalihkan tambahan 12% saham tanpa biaya, sehingga porsi Indonesia naik menjadi 63% pada tahun 2041.
Juga, yang menjanjikan masa depan adalah alih teknologi untuk Indonesia. Saat ini, Freeport sedang mengembangkan kecerdasan buatan (Artifical Intelligence – AI) bernama TROI (Throughput, Recovery, Optimization, Intelligence), yang mampu membaca data ribuan sensor untuk dianalisis, lalu sistem ini mampu merekomendasikan pengaturan operasi pabrik untuk memaksimalkan tembaga yang terambil.
Kemampuan TROI didemonstrasikan dihadapan Dubes Indroyono Soesilo, yang juga seorang ahli geologi. Dari ribuan data yang terekam, dalam hitungan detik, data dikirim ke pusat data, lalu dianalisis hubungan antara jenis bijih yang masuk, pembacaan sensor pabrik, laju bijih yang digiling, dan jumlah tembaga yang berhasil dipulihkan.
TROI dapat mengidentifikasi jenis bijih yang sedang diproses pada saat itu juga, lalu mengeluarkan rekomendasi pengaturan kontrol pabrik untuk memaksimalkan produksi tembaga. Rekomendasi dikeluarkan setiap 1–3 jam. Dengan dukungan Artificial Intelligence (AI), algoritma terus dipelajari dan disempurnakan.
Dalam operasionalisasi TROI di tambang tembaga AS, produksi tembaga melonjak 5% tanpa investasi modal besar. TROI juga sudah diuji coba di tambang tembaga Peru, Amerika Latin.
Suatu saat, penerapan TROI akan dilaksanakan di Papua, Indonesia, dan bisa menjadi pintu alih teknologi sesungguhnya: menumbuhkan ilmuwan data, metalurgis, dan insinyur unggul asal Papua—agar Papua mewarisi tambang sekaligus keahlian untuk mengelolanya sendiri.
***



