University of Michigan di kota Ann Arbor – AS, menerima kunjungan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang tiada lain juga adalah alumnus dari kampus ternama di AS ini. Ia menyelesaikan Program Master of Science Remote Sensing dari School of Natural Resources, tahun 1981.
Tidak heran, kehadiran Indroyono di almamaternya ini disambut hangat oleh seluruh pimpinan University of Michigan, antara lain, Dr.Laurie McCauley, Provost University of Michigan, didampingi Vice Provost Professor Michael Solomon, Associate Vice Provost Dr.Amy Carey, para Dekan dan Asisten Dekan dan para pimpinan Departemen serta Professor di bidang Environment & Sustainability, Material Science & Engineering, Civil & Environmental Engineering, Naval Architecture & Marine Engineering dan Direktur Pusat Studi Asia Tenggara.
Selain untuk menghadiri Indonesian Cultural Evening (ICE) yang digelar Persatuan Mahasiswa Indonesia di AS (Permias), Dubes Indroyono, yang didampingi Konsul Jenderal RI di Chicago, Trisari Dyah Paramita memfokuskan pembahasan dengan pimpinan University of Michigan untuk bekerjasama dalam riset mineral kritis dan logam tanah jarang (rare earth elements).
University of Michigan Ann Arbor memiliki program Materials Science & Engineering (MSE) tertua di Amerika Serikat, sejak 1854, dengan keahlian kelas dunia dalam metalurgi dan material strategis.
Pada Oktober 2025 lalu, University of Michigan meluncurkan riset ilmu material senilai $2,5 juta bersama Hydro, untuk mendirikan Center for Recycling, Extrusion and Aluminum Technology (CREATe) — dipimpin Prof. Alan Taub, Ashwin Shahani, dan John Allison. Pusat ini memfokuskan risetnya pada peningkatan ketahanan aluminium daur ulang untuk industri otomotif dan energi. Dilain pihak, Institut Teknologi Bandung (ITB) saat ini juga tengah merintis pembangunan Indonesia Rare Earth Elements Research Center (IREERC).
Tentu, rintisan kerjasama ini sangat relevan bagi Indonesia, mengingat negara kepulauan ini menyimpan hampir 50% cadangan nikel dunia, ditambah cadangan tembaga, timah, dan bauksit — semua mineral kritis untuk transisi energi global. University of Michigan bahkan telah menerbitkan laporan khusus tentang strategi nilai tambah nikel Indonesia dalam laporan “From Ore to Opportunity” (2026).
Riset University of Michigan dalam computational metallurgy, solidification, dan alloy design adalah ilmu yang dibutuhkan Indonesia untuk mengolah mineral mentah menjadi produk manufaktur bernilai tinggi. Kolaborasi ilmiah Indonesia – University of Michigan merupakan langkah strategis yang sudah waktunya diwujudkan. Ketua Departemen Materials Science & Engineering, Professor Elizabeth Holm menyampaikan minat untuk bekerjasama melalui pola dual-degree, Program Sarjana dan Program Magister dengan hasil 2 ijazah, dari ITB dan dari University of Michigan.
Sedang Professor Adam Simon, ahli geologi ekonomi yang sudah sering melaksanakan survey geologi di wilayah Indonesia menyatakan bahwa dalam 10 – 15 tahun kedepan, Indonesia akan mandiri dalam mineral Cobalt. Ini berarti, hilirisasi industri mineral di tanah air dapat dilaksanakan menggunakan seluruh bahan bakunya dari dalam negeri sendiri.
Semangat untuk bekerjasama antara Indonesia dan AS di bidang riset mineral kritis, logam tanah jarang, ilmu material dan teknik metalurgi mendapat dukungan penuh dari Menteri Pendidikan Tinggi, Sains & Teknologi RI, Professor Brian Yuliarto, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Professor Arif Satria, Rektor ITB, Professor Tata Dirgantara dan Dewan Pengarah Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), Professor Wardiman Djojonegoro.
University of Michigan di Ann Arbor adalah universitas top #4 versi US News & World Report dan top #1 sebagai perguruan tinggi penerima dana riset publik terbesar di AS. Universitas ini telah memiliki sejarah kerjasama yang panjang dengan Indonesia. Pada tahun 1956, Presiden Soekarno menerima gelar Doctor Honoris Causa Bidang Hukum dari universitas ini.
Kemudian, Presiden RI pertama ini mengirim para insinyur muda Indonesia ke Ann Arbor untuk belajar teknik nuklir. Hasilnya, pada tahun 1965, Pusat Reaktor Atom di Bandung diresmikan dan memposisikan Indonesia, kala itu, sebagai segelintir negara di Dunia yang sudah menguasai teknologi nuklir.
***



