Selasa, 16 Desember 2025

Restorasi Gambut Jadi Kunci Turunkan Emisi hingga 2,6 GtCO₂e per Tahun

Latest

- Advertisement -spot_img

Forestry Interim Secretariat of the International Tropical Peatlands Centre (ITPC) menegaskan pentingnya restorasi gambut tropis sebagai fondasi pencapaian Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 Indonesia dalam Dialogue Session bertajuk “Mengintegrasikan Restorasi Lahan Gambut dan FOLU dalam Kerangka Pasar Karbon Global” di Paviliun Indonesia, COP30 UNFCCC, Belem, 21 November 2025.

Sesi ini mempertemukan para pemangku kepentingan internasional untuk menyelaraskan tata kelola gambut dengan mekanisme pembiayaan iklim melalui pasar karbon global.

Pertemuan membahas peluang untuk memperkuat insentif bagi negara-negara pemilik lahan gambut dalam mempercepat upaya restorasi dan penurunan emisi. Indonesia saat ini memiliki sekitar 24 juta hektare Kesatuan Hidrologis Gambut, dengan 74 persen berada di kawasan hutan negara.

Ekosistem gambut tersebut menyimpan sekitar 89 gigaton karbon, setara dengan dua dekade emisi global dari bahan bakar fosil. Melalui restorasi dan pengelolaan berkelanjutan, Indonesia dapat menurunkan emisi sebesar 1,3–2,6 GtCO₂e per tahun, menjadikan gambut sebagai pilar utama dalam strategi FOLU Net Sink 2030.

Sesi dialog dihadiri oleh perwakilan UNEP, FAO, JICA, Greifswald Mire Centre, Congo Peat Project, dan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).

Direktur Perubahan Iklim UNEP, Martin Klause, menekankan bahwa kerja sama South–South Cooperation membuka peluang pendanaan dan memperkuat diplomasi iklim. “Insentif dari pasar karbon diharapkan dapat memperkuat upaya restorasi gambut serta meningkatkan kontribusi sektor FOLU terhadap pencapaian NDC,” ujarnya.

Perwakilan FAO, Amy Duchelle, memaparkan pembelajaran dari negara-negara tropis dalam menurunkan emisi berbasis penggunaan lahan.

Simon Lewis dari Congo Peat Project menyampaikan bahwa strategi iklim di Cekungan Kongo memerlukan pendekatan berbasis sains untuk menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan. Senada, Franziska Tanneberger dari Greifswald Mire Centre menekankan pentingnya peran ilmu pengetahuan dalam kebijakan, peningkatan kapasitas, dan tata kelola pasar karbon.

Dari aspek teknis, Mitsuru Osaki, ahli JICA dan Presiden Japan Peatland Society, menyampaikan bahwa penerapan MRV Tier 3 memperkuat akurasi perhitungan karbon sektor FOLU di Indonesia dan perlu dikembangkan lebih lanjut agar selaras dengan standar nasional dan internasional.

Sementara itu, perwakilan APHI, Dian Novarina, menyoroti peluang sektor swasta dalam restorasi gambut dan keterhubungannya dengan platform pasar karbon global untuk mendukung pembiayaan jangka panjang.

Pada akhir sesi, Wakil Ketua Forestry Interim Secretariat ITPC, Bambang Supriyanto, menegaskan perlunya kepemimpinan negara-negara pemilik gambut tropis dalam diplomasi iklim global.

“Negara anggota Forestry Interim Secretariat ITPC di Cekungan Kongo, Asia Tenggara, dan Amazon—termasuk Indonesia, DRC, Republik Kongo, dan Peru—perlu tampil sebagai peatland country champions. Kepemimpinan ini penting untuk memperkuat diplomasi iklim dan memobilisasi pendanaan global demi mempercepat restorasi dan tata kelola hutan gambut tropis,” tegasnya.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles