Sabtu, 13 Juli 2024

Periset BRIN Diminta Petakan Potensi HHBK Papua, Ada Kulit Kayu Hasilkan Minyak Seharga Rp20,4 juta

Latest

- Advertisement -spot_img

Periset Badan Riset dan Inovasi Nasional diminta untuk memetakan seluruh potensi hasil hutan bukan kayu yang ada di Papua. Pasalnya, Papua memiliki keanekaragaman hayati yang sangat besar dan menjadi tantangan agar dapat dikelola dan dipertahankan.

“Saya berharap tim periset khususnya yang ada di Kelris Ekologi Papua bisa memetakan semua sebaran hasil hutan bukan kayu yang ada di Papua. Bukan hanya sagu dan massoi ataupun rotan, tetapi potensi-potensi hasil hutan bukan kayu yang lain,” kata Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN Asep Hidayat dikutip Senin, 1 Juli 2024.

Dirinya juga meminta tim periset untuk dapat menjawab keberadaan tanaman endemik Papua lainnya serta menginformasikan mekanisme interaksi ekosistemnya.

Salah satu tanaman endemik Papua adalah massoi atau Criptocarya massoy yang perlu dikembangkan karena memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Di dunia genus Criptocarya terdapat 396 jenis di hutan Papuasia dan baru ditemukan 77 jenis.

Pudja Mardi Utomo Peneliti Ahli Madya BRIN menyebutkan, minyak esensial dari massoi di pasaran memiliki harga yang tinggi. Sebagai contoh ukuran 500 ml minyak massoi dihargai sekitar Rp20,4 juta.

Sementara di Papua harga bahan baku dari kulit kering massoi sangat rendah dengan kisaran harga Rp60 ribu-Rp120 ribu per kg kering.

“Cara panennya masih dengan cara destruktif yaitu penebangan hanya mengambil bagian kulitnya saja, sementara bagian yang lainnya dibuang. Padahal bagian-bagian yang terbuang itu baik kayu, ranting, daun, dan akar jika diolah masih memiliki nilai ekonomi. Hal ini karena semua bagian tersebut mengandung masoi lakton sebagai bahan baku essential oil massoi,” jelas Puja.

Selama ini penampung hanya membeli bagian kulitnya saja dengan tujuan untuk diekspor, perlu upaya-upaya untuk menaikkan produktivitas tanaman ini. Mulai dari pengadaan bibit unggul, cara budidaya, cara panen sampai perlakuan pasca panen, sehingga dapat meningkatkan nilai ekonominya.

_________

Tanaman massoi ini merupakan tanaman adaptif yang dapat tumbuh mulai dari dataran rendah hingga dataran tinggi. Di daerah Fakfak tanaman ini menjelma menjadi hutan tanaman alami.

“Bagi masyarakat Papua, tanaman massoi merupakan tanaman keramat yang dihormati sehingga untuk memanennya pun memakai ritual dan hanya mengambil bagian serpihan-serpihan kecil saja. Hal inilah yang menyebabkan massoi tidak bisa berkembang dan ditingkatkan nilai ekonominya. Inilah tantangan bagi periset untuk mengembangkan massoi menjadi tanaman budidaya,” terang Puja. ***

More Articles