Hotspot Nasional Turun Tipis Jadi 475 Titik, Pengendalian Karhutla Terus Diperkuat

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerintah bersama tim gabungan melanjutkan pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah setelah pemantauan terbaru mencatat 475 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional. Angka tersebut turun tipis dari 479 titik pada hari sebelumnya.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian, Sumatera Selatan kini mencatat jumlah hotspot tertinggi dengan 184 titik. Kondisi tersebut mendorong pemerintah meningkatkan patroli, pengecekan lapangan, pemadaman, pembasahan, dan pendinginan di wilayah yang terindikasi terdampak.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 hingga 17 September pukul 21.05 WIB mencatat 61 hotspot di Kalimantan Tengah, 30 titik di Kalimantan Barat, 15 titik di Jambi, dan lima titik di Kalimantan Selatan. Sementara itu, Riau tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan tersebut.

Perubahan jumlah hotspot menunjukkan perkembangan yang berbeda antarwilayah. Sumatera Selatan meningkat dari 123 menjadi 184 titik, sedangkan Kalimantan Tengah turun dari 102 menjadi 61 titik. Kalimantan Barat naik dari 21 menjadi 30 titik, Jambi dari 12 menjadi 15 titik, dan Kalimantan Selatan turun dari 11 menjadi lima titik. Riau juga turun dari 11 menjadi nihil.

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa data hotspot tidak secara otomatis menunjukkan lokasi kebakaran. Titik tersebut merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit sehingga petugas tetap perlu melakukan verifikasi langsung untuk memastikan apakah terdapat api dan menentukan penanganannya.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan pihak terkait terus menjalankan operasi di lapangan. Tim melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pembasahan, dan pendinginan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni turut meninjau kondisi karhutla dan kawasan konservasi di Sumatera Selatan pada Kamis (17/9). Ia mengunjungi Pusat Konservasi Gajah (PKG) Jalur 21 di Suaka Margasatwa Padang Sugihan untuk melihat langsung upaya pengendalian kebakaran sekaligus memastikan kondisi satwa dan habitatnya.

Padang Sugihan merupakan salah satu kawasan penting bagi Gajah Sumatra. Sebanyak 29 gajah binaan berada di PKG Jalur 21. Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, seluruh gajah tersebut masih dalam kondisi baik dan belum menunjukkan gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.

Untuk mendukung pengendalian, pemerintah tetap menyiagakan 53 armada udara di enam provinsi prioritas. Sebanyak 34 armada menjalankan operasi water bombing, sementara 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Tiga helikopter CH-47 Chinook dari Jepang juga telah disiapkan untuk memperkuat operasi water bombing. Penggunaannya akan menyesuaikan kondisi api, hasil verifikasi hotspot, situasi meteorologis, serta aspek keselamatan penerbangan.

Kondisi cuaca masih menjadi faktor yang perlu diantisipasi. Dalam prakiraan periode 18–24 September 2026, BMKG menyatakan pengaruh El Nino kategori sangat kuat dan musim kemarau masih membuat atmosfer relatif kering di sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan potensi terjadinya serta meluasnya karhutla.

Meski demikian, BMKG masih memperkirakan peluang hujan secara lokal pada 18–20 September, antara lain di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Pemerintah terus memantau perkembangan cuaca untuk menyesuaikan strategi pengendalian di lapangan.

Presiden dalam rapat terbatas pada 16 September meminta pemerintah mempertahankan kesiapsiagaan dan memperkuat koordinasi menghadapi potensi karhutla yang diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa pekan mendatang. Presiden juga menginstruksikan penindakan terhadap korporasi yang berdasarkan hasil verifikasi terbukti bertanggung jawab atas kebakaran, termasuk melalui pencabutan izin dan penyelidikan unsur pidana.

Dampak asap masih terlihat di sejumlah wilayah. Pemantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara sebagian besar daerah berada pada kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa lokasi bahkan masuk kategori berbahaya.

Di Sumatera Selatan, kabut asap pada 17 September memengaruhi jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang. Jarak pandang sempat turun hingga sekitar 700 meter pada pagi hari sehingga empat penerbangan yang hendak mendarat harus melakukan holding dan mengalami keterlambatan. Kondisi kemudian berangsur membaik setelah pukul 08.00 WIB.

Kondisi serupa juga masih terpantau di Kalimantan Barat. BMKG mencatat udara kabur dengan jarak pandang sekitar satu kilometer pada sejumlah periode pengamatan di kawasan Pelabuhan Utama Dwikora Pontianak. Sementara itu, pemantauan di Pekanbaru menunjukkan konsentrasi PM2,5 berada pada kategori sangat tidak sehat dan kabut asap masih terasa di Jambi.

Pengendalian karhutla juga mencakup perlindungan satwa liar yang berada di kawasan terdampak. Pada 17 September, BKSDA Kalimantan Barat bersama masyarakat dan mitra konservasi menyelamatkan tiga orangutan di Kayong Utara. Operasi tersebut melibatkan Tim WRU dan BKO BKSDA Kalbar, YIARI, Yayasan Palung, serta masyarakat pengelola hutan desa.

Kementerian Kehutanan meminta masyarakat tidak melakukan evakuasi satwa liar secara mandiri. Apabila menemukan satwa yang keluar dari habitat atau terdampak kebakaran, masyarakat diminta menjaga jarak, tidak menangkap, mengejar, atau memberi makan, kemudian mencatat dan mendokumentasikan lokasi apabila memungkinkan sebelum melaporkannya kepada Balai KSDA terdekat.

Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, pemerintah kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api. Pemerintah juga meminta masyarakat segera melaporkan keberadaan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang terdampak agar petugas dapat melakukan penanganan sejak dini.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles