Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa keberlanjutan hutan Indonesia bergantung pada keterlibatan generasi muda sebagai pelaku utama pelestarian lingkungan. Melalui Forest Youthverse Summit 2026 bertema “Rising Young Guardian of Himba Etam: Membangun Generasi Muda Penjaga Hutan Melalui Aksi Nyata”, kementerian memperkuat kapasitas generasi muda agar mampu menjadi Green Leaders, Green Communicators, dan Forest Heroes dalam mendukung pengelolaan hutan yang berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung pada 14–15 Juli 2026 di Samarinda tersebut merupakan puncak rangkaian program Forest Youthverse yang diselenggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan, bekerja sama dengan Balai P2SDM Wilayah V Samarinda. Sebelumnya, peserta telah mengikuti Mentoring Class dan Coaching Class sebagai bagian dari proses pembinaan.
Sebanyak 30 Generasi Pelestari Hutan (Genries) terpilih mengikuti summit bersama perwakilan sekolah, perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, komunitas lingkungan, Saka Wanabakti, dan pegiat konservasi dari Kalimantan Timur. Selama dua hari, peserta mendapatkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui kunjungan lapangan ke Arboretum Himba Etam, aksi penanaman pohon, diskusi bersama praktisi kehutanan, hingga Parade Inovasi yang menampilkan gagasan mengenai konservasi keanekaragaman hayati, rehabilitasi hutan, pengelolaan sampah, pemberdayaan masyarakat, dan pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelestarian hutan.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, mengatakan bahwa kekayaan terbesar Kalimantan Timur bukan hanya sumber daya alam maupun pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), tetapi juga keberadaan hutannya yang harus dijaga oleh generasi penerus.
“Kalau hari ini orang bertanya apa yang paling berharga dari Kalimantan Timur, mungkin ada yang menjawab batu bara, minyak dan gas, atau Ibu Kota Nusantara. Semua jawaban itu benar. Tetapi bagi saya, kekayaan terbesar Kalimantan Timur adalah hutannya. Dan masa depan hutan itu tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh kepedulian generasi mudanya,” ujar Luckmi.
Menurutnya, Indonesia tengah memasuki masa bonus demografi dengan sekitar 65 juta penduduk usia muda. Momentum tersebut harus diubah menjadi bonus ekologis melalui pembentukan generasi yang memiliki kepemimpinan, kompetensi, karakter, dan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
“Bonus demografi harus menjadi bonus ekologis. Kita ingin jutaan anak muda Indonesia bukan hanya menjadi generasi yang produktif, tetapi juga menjadi generasi yang memiliki karakter, kompetensi, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap kelestarian alam. Ketika jutaan anak muda bergerak bersama menjaga hutan, sesungguhnya kita sedang menjaga masa depan Indonesia,” katanya.
Selain meningkatkan kapasitas individu, Forest Youthverse juga menjadi wadah pembentukan jejaring Generasi Pelestari Hutan (Genries) yang diharapkan mampu menjadi mitra strategis pemerintah dalam mengembangkan gerakan pelestarian hutan di tingkat lokal maupun nasional. Jejaring tersebut dirancang untuk memperkuat kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan hutan Indonesia.
Kepala Balai P2SDM Wilayah V Samarinda, Elpa Rifadi, menilai kegiatan tersebut memiliki arti penting bagi Kalimantan Timur yang kini berperan sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara.
“Kalimantan Timur memiliki tanggung jawab yang besar sebagai wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara. Karena itu kami berharap Forest Youthverse tidak hanya menjadi ruang belajar bagi generasi muda, tetapi juga menjadi awal lahirnya kolaborasi dan aksi nyata yang terus berlanjut dalam menjaga Himba Etam sebagai kebanggaan Kalimantan Timur. Balai P2SDM Wilayah V Samarinda berkomitmen untuk terus mendukung lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian, kompetensi, dan kepemimpinan dalam pelestarian hutan,” ujar Elpa.
Pada akhir kegiatan, seluruh peserta membacakan Forest Youth Commitment, sebuah deklarasi yang menegaskan komitmen untuk terus belajar, berkolaborasi, menghadirkan inovasi, dan melaksanakan aksi nyata dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia. Komitmen tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya gerakan konservasi yang berkelanjutan di berbagai daerah.
***



