Hotspot Nasional Naik 777 Titik, Kalteng Jadi Fokus Pengendalian Karhutla

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan setelah jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi kembali meningkat. Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan lonjakan terbesar dan kini mendapat perhatian utama dalam operasi pengendalian.

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 1.323 hotspot high confidence secara nasional hingga Sabtu (19/9/2026) pukul 23.59 WIB. Angka tersebut meningkat 777 titik dibandingkan 546 hotspot yang terpantau sehari sebelumnya.

Kalimantan Tengah menyumbang peningkatan terbesar dengan 1.035 hotspot, dari sebelumnya 166 titik. Diikuti Sumatera Selatan dengan 112 titik dari 100, Kalimantan Barat 107 titik dari 39, Kalimantan Selatan 55 titik dari 12, serta Jambi 14 titik dari sembilan titik.

Sementara itu, Riau menjadi satu-satunya provinsi prioritas yang tidak mencatat hotspot high confidence dalam pemantauan terakhir. Jumlahnya turun dari empat titik pada hari sebelumnya menjadi nihil.

Lonjakan di Kalimantan Tengah mendorong pemerintah meningkatkan operasi di wilayah tersebut. Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan juga mendapat penguatan pengawasan karena jumlah hotspot di kedua provinsi tersebut meningkat dibandingkan pemantauan sebelumnya.

Kementerian Kehutanan menekankan bahwa data hotspot tidak dapat langsung diartikan sebagai jumlah kejadian kebakaran maupun luas lahan yang terbakar. Hotspot menunjukkan anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit sehingga setiap indikasi masih perlu diperiksa melalui groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan.

Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, relawan, dan pihak terkait menjalankan sejumlah langkah pengendalian. Kegiatan tersebut meliputi patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.

Sebanyak 55 armada udara juga dikerahkan untuk mendukung operasi di Sumatera dan Kalimantan. Armada tersebut terdiri atas helikopter patroli, pesawat CASA untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), dan helikopter water bombing. Pemerintah menyesuaikan pengerahan pesawat dan helikopter dengan lokasi kebakaran, perkembangan hotspot, potensi pembentukan awan, kondisi asap, jarak pandang, serta faktor keselamatan penerbangan.

Penanganan di kawasan gambut juga membutuhkan tahapan lanjutan setelah api permukaan berhasil dipadamkan. Tim tetap melakukan pembasahan dan pendinginan untuk mencegah bara di bawah permukaan kembali menyala ketika lahan mengering atau angin menguat.

Di sisi lain, kualitas udara masih menunjukkan kondisi yang berbeda-beda antardaerah. Sebagian wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang, tetapi sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan mencatat kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Beberapa lokasi bahkan masuk kategori berbahaya.

Pemerintah karena itu tidak hanya menggunakan jumlah hotspot sebagai indikator penanganan karhutla. Kondisi api di lapangan, konsentrasi PM2,5, pergerakan asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, peluang hujan, serta jarak pandang turut menjadi dasar dalam menentukan langkah operasi.

Dampak asap juga terlihat pada kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada Sabtu (19/9), jarak pandang di Palangka Raya sempat turun hingga sekitar 350 meter pada pagi hari dan memengaruhi aktivitas penerbangan. Kondisi kemudian membaik secara bertahap, meski asap masih terpantau. Di Pontianak, jarak pandang juga sempat berada di bawah satu kilometer selama periode pengamatan.

Perubahan jarak pandang yang cepat menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengerahan armada udara. Konsentrasi asap dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan, serta perkembangan kebakaran di wilayah sekitarnya.

Kementerian Kehutanan meminta masyarakat di wilayah terdampak asap mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis perlu mendapat perhatian lebih.

Pengguna jalan juga perlu meningkatkan kewaspadaan ketika asap menurunkan jarak pandang dengan mengurangi kecepatan kendaraan, menyalakan lampu, dan menjaga jarak aman.

Pemerintah kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan menggunakan api. Masyarakat juga diminta segera melaporkan keberadaan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang terdampak kepada petugas agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles