Sejarah tidak selalu hidup dalam buku teks; kadang ia hadir kembali melalui panggung, menyentuh emosi lewat musik, gerak, dan narasi. Itulah yang ditawarkan drama musikal “The Oath”, sebuah produksi megah yang mengangkat kisah legendaris Sumpah Palapa dari Mahapatih Gajah Mada—tokoh kunci di balik kejayaan Kerajaan Majapahit.
Dipentaskan pada Sabtu, 25 Juli 2026, di University of the District of Columbia, Washington DC, pertunjukan ini menarik sekitar 400-an penonton, mulai dari masyarakat Amerika Serikat, diaspora Indonesia, hingga pecinta seni dan sejarah.
“The Oath” digelar oleh Indonesia Kid Performing Arts (IKPA) di bawah pimpinan Gabriella Hasnan, melibatkan 102 artis dengan sutradara Nadia Syahmalina dan iringan orkestra yang dipimpin komposer Ulung Tanoto. Penampilan artis tamu seperti Nining Sri Astuti, Ayu Azhari, Lennon Tramp, Yuyun George, Rendy Wicaksono, dan Imelda Budiman memperkaya dinamika panggung, ditambah tari-tarian dari kelompok Budaya Nusantara yang menghadirkan warna kebhinekaan.
Acara dibuka oleh Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, yang menekankan pentingnya diplomasi budaya. Ia juga mengaitkan pertunjukan ini dengan momentum bersejarah, yakni dalam rangka merayakan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, 4 Juli 2026 dan memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, pada 17 Agustus 2026 yad —sebuah pengingat akan nilai kebebasan, persatuan, dan identitas bangsa.
Musikal ini mengisahkan perjalanan Gajah Mada dari latar sederhana hingga menjadi Mahapatih yang disegani. Ia mengabdi pada Raja Jayanegara, Ratu Tribhuwana Tunggadewi, hingga mencapai puncak pengaruhnya pada masa Raja Hayam Wuruk. Puncak dramatik hadir saat ia mengucapkan Sumpah Palapa—tekad untuk tidak menikmati kesenangan sebelum berhasil mempersatukan Nusantara.
Secara historis, Gajah Mada menjabat sekitar 1336–1364, masa ketika Majapahit mencapai kejayaan dengan wilayah pengaruh luas meliputi Sumatra (termasuk Aceh), Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Bahkan, jejaring politik dan perdagangan Majapahit menjangkau kawasan Asia Tenggara daratan, termasuk wilayah yang kini dikenal sebagai Vietnam. Keberhasilan ini didukung kekuatan maritim yang tangguh di bawah Laksamana Mpu Nala, yang menjadikan laut sebagai penghubung, bukan pemisah.
Melalui tata panggung yang megah dan musik yang memadukan unsur tradisional dan modern, “The Oath” menghidupkan kembali semangat besar tersebut. Lebih dari sekadar pertunjukan, musikal ini menjadi refleksi tentang kepemimpinan dan visi.
Di tengah tantangan global yang kerap memicu fragmentasi, konsep Nusantara yang diperjuangkan Gajah Mada menemukan relevansinya dalam Indonesia masa kini. Persatuan dalam keberagaman bukan sekadar warisan sejarah, melainkan fondasi yang terus harus dijaga dan diperkuat untuk menghadapi masa depan.
***



