Kementerian Kehutanan terus memperkuat upaya pelestarian ekosistem mangrove sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan pesisir, melindungi keanekaragaman hayati, dan mendukung pengendalian perubahan iklim. Komitmen tersebut ditegaskan dalam kunjungan kerja Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz ke kawasan Mangrove Graha Indah, Balikpapan, Kalimantan Timur, Minggu (21/6/2026).
Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya tantangan lingkungan pesisir, mulai dari abrasi, intrusi air laut, hingga dampak perubahan iklim yang berpotensi mengancam ekosistem dan kehidupan masyarakat di wilayah pantai. Kalimantan Timur sendiri menjadi salah satu daerah yang memiliki kawasan mangrove penting dengan fungsi ekologis yang besar bagi keberlanjutan lingkungan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz mengatakan mangrove memiliki peran strategis tidak hanya sebagai habitat berbagai jenis flora dan fauna, tetapi juga sebagai pelindung alami kawasan pesisir dari berbagai ancaman lingkungan.
“Mangrove memiliki nilai ekologis, sosial, dan ekonomi yang sangat tinggi. Keberadaannya tidak hanya penting bagi perlindungan pesisir, tetapi juga menjadi solusi alami dalam menghadapi perubahan iklim dan menjaga keberlanjutan sumber daya alam bagi generasi mendatang. Karena itu, upaya perlindungan dan pengelolaan mangrove harus terus diperkuat melalui kolaborasi seluruh pihak,” ujar Mahfudz.
Ia menjelaskan bahwa ekosistem mangrove juga berperan penting dalam menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar sehingga berkontribusi terhadap pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca nasional. Selain itu, keberadaan mangrove turut mendukung produktivitas perikanan serta menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Dalam kesempatan tersebut, Mahfudz menekankan bahwa keberhasilan konservasi mangrove tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan menjaga kawasan yang masih utuh dan memastikan pengelolaannya berlangsung secara berkelanjutan.
Menurutnya, edukasi lingkungan dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan ekosistem mangrove. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, dan masyarakat perlu terus diperkuat.
Kawasan Mangrove Graha Indah di Balikpapan dinilai menjadi salah satu contoh pengelolaan mangrove yang berhasil mengintegrasikan fungsi konservasi, pendidikan lingkungan, penelitian, serta peningkatan kesadaran publik mengenai pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Sebagai bagian dari kegiatan tersebut, Mahfudz bersama sejumlah pemangku kepentingan melakukan penanaman mangrove sebagai simbol komitmen bersama dalam menjaga kawasan pesisir. Namun ia mengingatkan bahwa upaya konservasi harus berorientasi jangka panjang agar manfaat ekologis dan sosialnya dapat terus dirasakan.
“Menanam mangrove adalah langkah penting, tetapi yang lebih penting adalah memastikan mangrove dapat tumbuh, terjaga, dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat dalam jangka panjang. Konservasi mangrove merupakan investasi untuk masa depan yang hasilnya akan dinikmati oleh generasi mendatang,” tegasnya.
Kementerian Kehutanan berharap penguatan kolaborasi berbagai pihak dapat mempercepat upaya perlindungan mangrove di Indonesia sehingga ekosistem pesisir tetap terjaga, keanekaragaman hayati terlindungi, dan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
***



