Potensi El Niño 2026 Perlu Diantisipasi Sejak Dini, Pakar Ingatkan Risiko Karhutla dan Krisis Air

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerhati iklim, lingkungan dan geospasial Asep Karsidi mengingatkan pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi musim kering 2026 yang diperkirakan dapat memicu kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga krisis air di sejumlah wilayah Indonesia. Hal tersebut disampaikan Asep berdasarkan hasil telaah dinamika iklim global dan prakiraan cuaca nasional periode Mei–November 2026.

Asep menjelaskan indikator global menunjukkan Indonesia sedang memasuki fase transisi menuju kondisi lebih kering dari normal akibat kombinasi fenomena El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi memperkuat musim kemarau pada semester II tahun 2026.

“BMKG dan NOAA sama-sama menunjukkan adanya penguatan sinyal El Niño pada pertengahan hingga akhir 2026. Jika konfigurasi El Niño moderat dan IOD positif berkembang penuh, maka Indonesia berpotensi mengalami musim kering signifikan yang perlu diantisipasi sejak dini,” kata Asep dalam kajian tertulisnya di Jakarta, Minggu.

Ia mengatakan fenomena El Niño umumnya menyebabkan penurunan pembentukan awan konvektif di wilayah Indonesia sehingga curah hujan melemah, durasi hari tanpa hujan meningkat, dan suhu udara permukaan menjadi lebih panas. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan risiko kekeringan meteorologis maupun kebakaran lahan, khususnya di wilayah gambut.

Asep menuturkan periode Mei–Juni 2026 masih merupakan fase transisi musim yang ditandai cuaca ekstrem lokal seperti hujan lebat, petir, angin kencang, dan puting beliung di sejumlah daerah. Namun memasuki Juli hingga Agustus 2026, kondisi curah hujan diprakirakan mulai dominan kering dengan potensi defisit hujan meluas di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera Selatan, Kalimantan, Sulawesi hingga Maluku.

“Periode Agustus hingga September kemungkinan menjadi fase paling kritis karena kombinasi El Niño matang, IOD positif, dan monsun Australia kering dapat meningkatkan risiko karhutla, krisis air baku, gangguan irigasi, hingga penurunan kualitas udara,” ujarnya.

Ia menambahkan wilayah yang diperkirakan memiliki risiko sangat tinggi antara lain Jawa bagian utara, Bali–NTB–NTT, Sumatera Selatan, Jambi, Riau, serta Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Kawasan tersebut dinilai rentan mengalami kekeringan, penurunan ketersediaan air, hingga kebakaran lahan gambut.

Menurut Asep, pemerintah perlu memperkuat langkah antisipasi melalui sistem peringatan dini karhutla, pengelolaan sumber daya air, penyesuaian kalender tanam, serta monitoring hotspot berbasis satelit. Selain itu, kesiapan operasi modifikasi cuaca dan pengamanan pasokan air baku perkotaan juga perlu menjadi perhatian.

“Mitigasi harus dilakukan lebih awal karena dampak musim kering bukan hanya terkait kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan aktivitas ekonomi secara luas,” katanya.

Dalam kajiannya, Asep juga mengingatkan bahwa meskipun prediksi ENSO masih memiliki tingkat ketidakpastian, arah menuju kondisi lebih kering dinilai cukup kuat. Karena itu, koordinasi lintas sektor dan kesiapsiagaan nasional dinilai menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi pada semester II tahun 2026.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles