Hari kedua The 6th International Symposium on Earth, Energy, Environmental Science and Sustainable Development 2025 yang diselenggarakan oleh Journal of Environmental Science and Sustainable Development (JESSD) pada Sabtu (8/11/2025).
Sesi yang mengangkat tema “Integrating Socio-Ecological, Conservation, and Behavioral Communication Approaches for Forest and Land Fire Prevention”ini dirancang untuk mengupas tuntas tantangan dan solusi pencegahan kebakaran hutan dan lahan melalui integrasi ilmu sosio-ekologi, pendekatan konservasi, serta strategi komunikasi perilaku.
Dengan menggabungkan perspektif ilmiah, kebijakan, dan dinamika masyarakat, forum ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas disiplin dalam memperkuat ketahanan ekosistem dan mendorong pencegahan karhutla yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Prof. Dr. Kosuke Mizuno dari Departemen Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan memaparkan bahwa lahan gambut merupakan ekosistem yang sangat rentan terhadap kebakaran, baik akibat kegagalan pasar, lemahnya tata kelola, maupun permasalahan di tingkat komunitas.
Ia menegaskan bahwa upaya terkoordinasi antara masyarakat lokal, lembaga pemerintah, dan perusahaan, serta dukungan universitas, lembaga swadaya masyarakat, dan mitra lainnya terbukti berhasil menurunkan kejadian kebakaran, meningkatkan produktivitas lahan, serta memperkuat kesadaran komunitas sebagai fondasi pencegahan jangka panjang.
“Pendekatan kolaboratif merupakan kunci. Ketika seluruh pemangku kepentingan bekerja dalam satu kerangka yang sama, kita dapat menciptakan ekosistem gambut yang lebih tahan terhadap risiko kebakaran dan mendorong praktik pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan,” ujar Mizuno.
Trisia Megawati Kusuma Dewi, selaku Pakar Komunikasi Lingkungan dengan fokus pada pencegahan kebakaran hutan dan lahan memaparkan bahwa weak-threat fear appeal yang dipadukan dengan dialog partisipatif masyarakat terbukti efektif dalam mendorong perubahan perilaku pencegahan karhutla. Ia menekankan bahwa komunikasi perilaku merupakan mata rantai antara ilmu pengetahuan dan kebijakan, terutama dalam konteks pencegahan kebakaran berbasis komunitas.
“Kami melihat bahwa pendekatan komunikasi perilaku bukan hanya soal menyampaikan pesan, tetapi membangun kepercayaan dan rasa kepemilikan masyarakat terhadap upaya pencegahan karhutla. Hal ini penting agar intervensi berjalan berkelanjutan,” ucap Trisia.
Sementara itu, Pricilia Chika Alexandra menyajikan hasil analisis sosio-ekologis terhadap kebakaran gambut berulang di Kalimantan Tengah. Temuannya menunjukkan bahwa pola penggunaan lahan dan gangguan hidrologis menciptakan lanskap yang rawan terbakar. Upaya pemantauan bersama dan pembangunan infrastruktur pembasahan gambut mampu menurunkan frekuensi kebakaran.
“Pendekatan sosio-ekologis membantu kita melihat bahwa pencegahan karhutla tidak bisa hanya berfokus pada aspek teknis. Pengelolaan lanskap harus mempertimbangkan dinamika sosial, perilaku masyarakat, dan kondisi ekologis secara menyeluruh,” jelasnya.
Sesi ini dimoderatori oleh Dr. Yanu Aryani, yang memfasilitasi dialog multidisipliner tentang bagaimana pemahaman sosio-ekologis, komunikasi perilaku, dan restorasi berbasis konservasi dapat diintegrasikan untuk memperkuat strategi pencegahan kebakaran yang lebih tangguh dan berpusat pada masyarakat.
Melalui webinar ini, JESSD mendorong pendekatan ilmiah dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi tantangan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.
***



