Kementerian Kehutanan melalui Manggala Agni mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Riau. Tim pemadam diterjunkan ke beberapa titik kebakaran di Kabupaten Siak, Rokan Hilir, dan Pelalawan untuk mencegah api meluas serta mengurangi dampak terhadap lingkungan dan masyarakat.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan personel Manggala Agni terus melakukan pemadaman intensif di lapangan sejak kebakaran terdeteksi beberapa hari terakhir. Salah satu fokus utama penanganan berada di Desa Pecing Bekulo, Kecamatan Kandis, Kabupaten Siak, di mana api masih membakar vegetasi dan lahan pada hari ketiga operasi pemadaman.
Menurut Ferdian, kondisi medan yang sulit serta angin yang cukup kencang menjadi tantangan dalam operasi pengendalian kebakaran. Meski demikian, tim tetap berupaya membatasi pergerakan api agar tidak menjalar ke area yang lebih luas.
“Fokus kami saat ini adalah melanjutkan pemadaman sekaligus membuat sekat agar api tetap terlokalisasi. Tim darat juga mendapat dukungan operasi water bombing dari Satgas Udara,” ujar Ferdian.
Selain di Siak, satu regu Manggala Agni Daops Sumatera III Labuhanbatu turut membantu operasi pemadaman di Desa Pasir Limau Kapas, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir. Tim gabungan dikerahkan untuk memastikan titik api dapat dipadamkan secara menyeluruh dan mencegah kebakaran kembali muncul.
Sementara itu, Balai Dalkarhut Wilayah Sumatera juga mengirimkan dua tim Manggala Agni Daops Sumatera VII Rengat ke Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, dan Pulau Mendol, Kabupaten Pelalawan. Kedua wilayah tersebut memiliki karakteristik lahan gambut yang rentan mengalami kebakaran pada musim kemarau.
“Kami membagi kekuatan ke dua lokasi sekaligus. Perjalanan menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar delapan jam melalui jalur darat dan perairan. Prioritas utama kami adalah melokalisasi api agar tidak merambat ke kawasan perkebunan masyarakat,” kata Ferdian.
Ia menjelaskan bahwa cuaca panas dan akses yang terbatas menjadi kendala dalam pelaksanaan operasi. Namun, seluruh personel tetap menjalankan tugas dengan mengutamakan keselamatan dan efektivitas penanganan di lapangan.
Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tingkat Fine Fuel Moisture Code (FFMC) di sejumlah wilayah Riau dan Sumatera berada pada kategori ekstrem. Kondisi tersebut menunjukkan bahan bakar alami di permukaan lahan sangat kering dan mudah terbakar sehingga meningkatkan risiko penyebaran api secara cepat.
Ferdian mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode cuaca kering. Ia meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.
“Nilai FFMC yang berada pada kategori ekstrem menunjukkan tingkat kerawanan kebakaran yang sangat tinggi. Karena itu, seluruh pihak perlu memperkuat langkah pencegahan agar kebakaran tidak semakin meluas,” ujarnya.
***



