Kemenhut dan Korea Selatan Fokus Perkuat Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengelolaan Hutan

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerintah Indonesia dan Republik Korea sepakat memperkuat kemitraan di sektor kehutanan melalui peningkatan kerja sama teknis dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan hutan, serta penguatan kapasitas menghadapi dampak perubahan iklim. Komitmen tersebut ditegaskan dalam pertemuan bilateral yang berlangsung di sela APEC Forestry Ministers’ Meeting (FTMM) di Shenzhen, Tiongkok, Senin (27/7).

Pertemuan mempertemukan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) Kementerian Kehutanan, Laksmi Wijayanti, dengan Commissioner of the Korea Forest Service, Park Eun-sik. Kedua delegasi membahas penguatan kolaborasi yang telah terjalin sekaligus menjajaki peluang kerja sama baru untuk menghadapi tantangan pengelolaan hutan yang semakin kompleks.

Dalam kesempatan tersebut, Indonesia menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Korea Selatan terhadap pembangunan sektor kehutanan nasional. Menurut Laksmi, hubungan bilateral di bidang kehutanan telah berkembang dengan baik dan perlu terus diperkuat agar mampu memberikan manfaat bagi kelestarian hutan sekaligus kesejahteraan masyarakat.

“Kita memiliki tujuan yang sama, yaitu menjaga hutan sebagai ekosistem sekaligus memastikan masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan hutan memperoleh manfaat dan kesejahteraan. Karena itu, kerja sama teknis antara Indonesia dan Korea Selatan menjadi semakin penting,” ujar Laksmi.

Sementara itu, Commissioner of the Korea Forest Service, Park Eun-sik, menegaskan bahwa Indonesia merupakan mitra strategis Korea Selatan dalam sektor kehutanan. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara tempat Korea Forest Service mendirikan Forest Service Center di luar negeri sebagai wujud eratnya hubungan kerja sama kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, Park juga membagikan pengalaman Korea Selatan menghadapi dampak perubahan iklim. Ia menjelaskan bahwa negaranya mengalami kebakaran hutan terbesar sepanjang sejarah pada tahun lalu yang menghanguskan ratusan ribu hektare kawasan hutan dan menimbulkan puluhan korban jiwa. Setelah itu, Korea Selatan juga menghadapi bencana tanah longsor berskala besar saat musim hujan.

Menurut Park, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hutan harus mampu melindungi ekosistem sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan menopang aktivitas ekonomi. Kesamaan tantangan tersebut dinilai menjadi landasan penting bagi Indonesia dan Korea Selatan untuk saling bertukar pengetahuan serta memperkuat kapasitas pengelolaan hutan.

Menutup pertemuan, Laksmi menekankan bahwa keberhasilan menjaga kelestarian hutan tidak dapat dilepaskan dari keterlibatan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar kawasan hutan. Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan berbagai skema yang memberikan manfaat ekonomi sehingga masyarakat memiliki insentif untuk menjaga kelestarian hutan.

“Apabila masyarakat tidak merasakan manfaat dari keberadaan hutan, tekanan terhadap kawasan hutan akan terus terjadi. Karena itu, upaya konservasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.

Pertemuan bilateral tersebut diharapkan semakin memperkuat kemitraan Indonesia dan Korea Selatan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, pencegahan kebakaran hutan, adaptasi terhadap perubahan iklim, serta pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi kedua negara juga diharapkan mendukung terwujudnya sektor kehutanan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim global.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles