ADPIKI dorong dosen bangun karier berbasis kepakaran dan kontribusi

Latest

- Advertisement -spot_img

Penguatan kualitas dosen menjadi salah satu kunci peningkatan mutu dan daya saing pendidikan tinggi. Melalui Masterclass Batch 5 bertema “Peta Jalan Karir Dosen: Menakar Linieritas Keilmuan untuk Kenaikan Jabatan Fungsional” pada Jumat (18/9/2026), ADPIKI mendorong dosen membangun karier akademik secara terencana dengan menghubungkan kepakaran, penelitian, publikasi, dan pengabdian kepada masyarakat agar kenaikan jabatan mencerminkan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan kebutuhan masyarakat.

Ketua Umum ADPIKI Heri Budianto menekankan pentingnya perencanaan karier dosen yang menghubungkan penguatan kepakaran, kualitas publikasi, dan kontribusi kepada masyarakat agar kenaikan jabatan akademik berjalan seiring dengan peningkatan mutu pendidikan tinggi.

“Dosen perlu memiliki arah pengembangan keilmuan yang jelas sejak awal. Peta jalan karier akan membantu dosen menghubungkan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat menjadi rekam jejak yang konsisten dan berdampak,” ujar Heri.

Kegiatan yang mengangkat tema “Peta Jalan Karir Dosen: Menakar Linieritas Keilmuan untuk Kenaikan Jabatan Fungsional” tersebut membahas strategi pengembangan karier akademik melalui penataan portofolio, kesinambungan riset, serta penguatan hubungan antara pendidikan dan bidang kepakaran.

Menurut Heri pemahaman terhadap persyaratan kenaikan jabatan perlu dibarengi dengan kemampuan merancang kegiatan akademik secara terarah. Dengan demikian, setiap penelitian, publikasi, dan kegiatan pengabdian dapat saling memperkuat serta menunjukkan kontribusi dosen pada bidang yang ditekuninya.

Ia menilai asosiasi memiliki peran dalam menyediakan ruang pembelajaran, pertukaran pengalaman, dan pengembangan jejaring untuk membantu dosen menyusun langkah karier yang lebih terencana.

“Melalui masterclass ini, kami ingin memperkuat pemahaman dosen dalam membangun portofolio akademik yang berkualitas, menjaga integritas, serta menghasilkan karya yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua Departemen Pengembangan Karir Dosen ADPIKI Prof. Suraya menjelaskan bahwa peta jalan karier membantu dosen mengenali posisi akademiknya, menetapkan target pengembangan, serta merancang penelitian dan publikasi sejak dini.

Menurut dia, perencanaan tersebut perlu disesuaikan dengan tahapan karier, mulai dari adaptasi pelaksanaan tridarma, penguatan riset dan kolaborasi, hingga pembangunan reputasi serta kepemimpinan akademik.

“Peta jalan karier membantu dosen menentukan prioritas. Dengan arah yang jelas, pengajaran, riset, kolaborasi, dan publikasi dapat direncanakan untuk mendukung pertumbuhan kepakaran secara berkelanjutan,” ujarnya.

Suraya menekankan pentingnya kualitas karya ilmiah, termasuk relevansi, orisinalitas, kekuatan metodologi, serta manfaat temuan. Produktivitas publikasi perlu disertai kontribusi yang dapat dikenali dalam pengembangan ilmu maupun penyelesaian persoalan masyarakat.
Ia juga menyoroti pentingnya pengabdian kepada masyarakat yang sesuai dengan bidang keahlian, melibatkan mahasiswa, serta didukung dokumentasi hasil dan manfaat kegiatan.

Dengan pendekatan tersebut, portofolio dosen dapat memperlihatkan hubungan yang utuh antara proses pembelajaran, pengembangan pengetahuan, dan penerapannya di masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Guru Besar Ilmu Komunikasi Hukum Universitas Bhayangkara Jakarta Raya sekaligus Ketua Bidang Sertifikasi Profesi Pengurus Pusat ADPIKI Prof. Aan Widodo menjelaskan bahwa linearitas keilmuan perlu dipahami melalui keterhubungan pendidikan, kepakaran, karya ilmiah, dan dampak tridarma.

Menurut Aan, dosen perlu mampu menunjukkan benang merah yang menghubungkan latar belakang pendidikan dengan fokus penelitian, publikasi, pengajaran, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Linearitas perlu terlihat dalam kesinambungan gagasan. Pendidikan doktor menjadi dasar untuk mengembangkan agenda riset, kemudian diperkuat melalui publikasi, pengajaran, dan pengabdian yang bergerak dalam arah keilmuan yang saling mendukung,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa linearitas memiliki dimensi administratif dan substantif. Dimensi administratif berkaitan dengan kelengkapan serta kesesuaian dokumen, sedangkan dimensi substantif memperlihatkan kepakaran dan kontribusi keilmuan yang dibangun melalui rekam jejak akademik.

Aan mengingatkan agar penyelesaian pendidikan doktor dilanjutkan dengan pengembangan temuan disertasi menjadi agenda penelitian jangka panjang. Pengembangan tersebut dapat dilakukan melalui konteks, pendekatan, atau persoalan baru yang tetap terhubung dengan akar keilmuan.

“Topik penelitian dapat berkembang, tetapi hubungan antarkarya perlu tetap terbaca. Dari situlah kepakaran tumbuh dan dapat dikenali melalui kontribusi yang konsisten,” ujarnya.

Ia mencontohkan pengembangan kajian komunikasi persidangan menjadi kepakaran komunikasi hukum yang mencakup persidangan virtual, jurnalisme persidangan, keterbukaan peradilan, serta komunikasi hukum melalui media sosial.

Pembahasan dalam masterclass tersebut menegaskan pentingnya menempatkan peta jalan karier sebagai panduan pengembangan mutu dosen. Kesinambungan kepakaran, integritas akademik, kolaborasi, dan kontribusi tridarma menjadi fondasi untuk mendukung kemajuan karier sekaligus memperkuat manfaat pendidikan tinggi bagi Masyarakat.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles