Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan yang menggunakan data satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 21.05 WIB, Kalimantan Tengah masih menjadi provinsi dengan jumlah hotspot high confidence terbanyak, yakni 178 titik.
Sumatera Selatan berada di urutan berikutnya dengan 120 titik, disusul Kalimantan Barat 54 titik, Kalimantan Selatan 14 titik, Riau 12 titik, dan Jambi enam titik. Lima dari enam provinsi prioritas mencatat penurunan dibandingkan sehari sebelumnya, sementara Kalimantan Selatan mengalami kenaikan dari empat menjadi 14 titik.
Penurunan nasional tersebut belum membuat pemerintah mengendurkan operasi. Kementerian Kehutanan kini memberikan perhatian lebih terhadap Sumatera Selatan karena masih terdapat 120 hotspot high confidence, sekaligus mempertahankan pengawasan di Kalimantan Tengah dan wilayah prioritas lainnya.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa data hotspot dari satelit merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan bukan bukti langsung terjadinya kebakaran. Satu kejadian kebakaran juga dapat menghasilkan beberapa titik deteksi. Karena itu, tim tetap melakukan groundcheck untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan sebelum menentukan langkah penanganan.
Di Kalimantan Barat, penurunan hotspot berlangsung cukup tajam setelah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat mengguyur sebagian wilayah pada malam 4 September. Jumlah hotspot high confidence di provinsi tersebut turun dari 124 titik menjadi 54 titik pada pemantauan 5 September, atau berkurang 70 titik.
Hujan membantu membasahi lahan dan mendukung proses pengendalian api. Namun, pemerintah belum menganggap kondisi tersebut sebagai tanda berakhirnya ancaman karhutla. Curah hujan belum merata, sementara asap masih terpantau di sejumlah lokasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus di kawasan gambut. Api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun kondisi permukaan terlihat lebih basah. Karena itu, tim terus melakukan pendinginan, mopping up, patroli, dan pemeriksaan lapangan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot juga mengalami penurunan dari 165 menjadi 120 titik. Meski turun 45 titik, angka tersebut masih menempatkan Sumatera Selatan sebagai wilayah dengan hotspot tertinggi kedua di antara enam provinsi prioritas.
Tim gabungan yang terdiri atas Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan unsur terkait lainnya terus menjalankan pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, groundcheck, pendinginan, serta pemantauan terhadap area yang telah ditangani.
Pemerintah juga mengandalkan dukungan operasi udara untuk menjangkau lokasi yang sulit ditangani melalui jalur darat. Sebanyak 53 armada udara disiapkan di enam provinsi prioritas, dengan 19 armada menjalankan patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada melakukan water bombing.
Pengerahan armada udara menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan di setiap lokasi. Pemerintah juga menjalankan OMC pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis guna meningkatkan pembasahan lahan dan mendukung operasi pemadaman.
Selain api dan hotspot, pemerintah memantau dampak karhutla terhadap kualitas udara dan jarak pandang. Data BMKG berbasis PM2,5 menunjukkan kualitas udara yang masih beragam, dengan sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Pada malam 5 September, BMKG mencatat jarak pandang di Palembang mencapai 10 kilometer atau lebih dengan kondisi berawan. Palangka Raya memiliki jarak pandang sekitar delapan kilometer, Pontianak dua kilometer dengan kondisi berasap, Banjarmasin sembilan kilometer, Pekanbaru delapan kilometer, dan Jambi tujuh kilometer.
Situasi di Sumatera Selatan juga menunjukkan perubahan dalam waktu singkat. Pada siang hari, jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sempat berada di sekitar lima kilometer dengan kondisi berasap. Pada malam hari, jarak pandang membaik menjadi 10 kilometer atau lebih.
Di Kalimantan Barat, penurunan hotspot setelah hujan belum sepenuhnya menghilangkan persoalan asap. Pada malam 5 September, jarak pandang di Pontianak tercatat sekitar dua kilometer dengan kondisi berasap, sedangkan Putussibau mengalami kondisi berasap dengan jarak pandang sekitar satu kilometer.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kondisi asap dan jarak pandang dapat bergerak cepat mengikuti aktivitas kebakaran, arah angin, kelembapan, curah hujan, dan dinamika atmosfer. Pemerintah karena itu terus menggabungkan data hotspot, kondisi kebakaran, cuaca, curah hujan, kualitas udara, sebaran asap, dan jarak pandang sebagai dasar menentukan prioritas pengerahan personel serta operasi darat dan udara.
Kementerian Kehutanan meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
***



