Washington, DC-AS menjadi pusat perhatian dunia ketika para ilmuwan, insinyur, dan pengambil kebijakan berkumpul dalam International Geoscience and Remote Sensing Symposium (IGARSS) 2026, yang berlangsung pada 9–14 Agustus 2026. Konferensi ke-46 yang diselenggarakan oleh Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) Geoscience and Remote Sensing Society ini mengangkat tema besar “The Future of Earth Observations” dan dihadiri sekitar 2.400 peserta dari berbagai negara.
IGARSS dikenal sebagai forum utama dalam pengembangan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan Geographic Information System (GIS). Di sinilah para ahli berbagi cara-cara mutakhir untuk “membaca” kondisi Bumi dari jarak jauh—mulai dari penggunaan satelit, radar, drone, hingga sensor dan kecerdasan buatan. Teknologi ini memungkinkan pemantauan hutan, laut, cuaca, pertanian, hingga bencana seperti banjir dan kebakaran, serta dinamika kawasan perkotaan.
Bagi Indonesia, teknologi ini memiliki arti strategis. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sumber daya alam, perlindungan hutan, serta mitigasi bencana. Data penginderaan jauh menjadi fondasi penting dalam pengambilan kebijakan berbasis bukti.
Konferensi yang digelar di Washington Hilton ini juga mencerminkan skala riset global yang sangat besar, dengan sekitar 3.500 makalah dipresentasikan. Dari Indonesia, tujuh makalah turut berkontribusi, menunjukkan kiprah aktif peneliti nasional di panggung internasional.
Salah satu makalah berjudul “Understanding the Impact of Ocean Variability on Sardinella Lemuru Production Using Ocean Color Data in the Bali Strait, Indonesia”, dipresentasikan oleh Jonson Lumban-Gaol dari IPB University, bersama Aninda Wisaksanti Rudiastuti dari BRIN dan Charles P.H. Simanjuntak dari IPB University. Penelitian ini mengkaji hubungan antara dinamika laut dan produksi ikan lemuru di Selat Bali.
Makalah lain berjudul “Jabodetabek as One of the Largest Metropolitan Areas in the World: Spatial Expansion and Urban Dynamics”, disampaikan oleh Alinda Fitriany Malik Zain dari IPB University, Dewayany Sutrisno dari BRIN, Janthy Trilusianthy Hidajat dari Pakuan University, serta Angelicha Nurmara Tanjung, Falahi Sasy Anindhito, Hafiz Agam Hidayat, Ivan Octavianto, Rico Agustiano, Arief Rahman Baehaqi, dan Revira Zahra Anbiyalla dari IPB University, bekerja sama dengan Ami A.M. Mizuno dari Kyoto University, Jepang.
Di bidang kebencanaan geologi, makalah “Multi-Epoch InSAR Tracking of Ground Deformation at Ibu Volcano Using ALOS PALSAR and Sentinel-1 Satellite”, dipaparkan oleh Agustan dari BRIN/MAPIN, Arif Aditiya dari Badan Informasi Geospasial, Heri Sadmono, Yudi Anantasena, dan Djoko Nugroho dari BRIN, bersama Takeo Ito dari Nagoya University, Jepang.
Selain itu, penelitian “Urban Land Subsidence Monitoring in Surabaya Using Sentinel-1 Time-Series InSAR”, dipresentasikan oleh Agustan dari BRIN/MAPIN, Mohamad Jaelani dari ITS Surabaya, serta Muhammad Iqbal Habibie, Soni Darmawan, Rika Hernawati, dan Robby Arifandri dari Indonesian Society for Remote Sensing/MAPIN.
Dari bidang teknologi radar dan pemrosesan sinyal, makalah “Physics-Based Modeling and Measurement of Synthetic Ultra- and C-Band Subbands”, disampaikan oleh Joko Suryana, Andriyan Bayu Suksmono, dan Ali Rhomadoni dari ITB, bersama Wei Xiang dan William D. Lukito dari La Trobe University, Australia. Sementara itu, makalah “Detection Probability of Nonlinear Frequency Modulation Signal in Close Target Scenario”, dipresentasikan oleh Ahmad Izzuddin, Andriyan Bayu Suksmono, dan Joko Suryana dari ITB.
Salah satu momen penting dalam konferensi ini adalah pidato utama (keynote address) yang disampaikan oleh Prof. Dr. Indroyono Soesilo, pakar remote sensing Indonesia yang juga menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat. Dalam pidatonya, ia menegaskan bahwa observasi Bumi di Indonesia telah menjadi tulang punggung dalam pemantauan hutan dan lahan gambut, penilaian karbon, perencanaan tata ruang, hingga mitigasi bencana.
Secara global, teknologi ini juga memainkan peran penting dalam mendukung implementasi Perjanjian Paris dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Ke depan, perkembangan akan mengarah pada konstelasi satelit cerdas, resolusi data yang semakin tinggi, penggunaan digital twin, serta integrasi lintas sumber data.
Namun demikian, Prof. Indroyono juga menekankan pentingnya tanggung jawab dalam pengembangan teknologi ini. Integritas ilmiah, keadilan akses, relevansi terhadap kebutuhan masyarakat, etika penggunaan data, serta kerja sama internasional menjadi kunci agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata dan berkelanjutan.
IGARSS berdiri di atas warisan panjang Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE), sebuah lembaga ilmiah dunia paling berpengaruh yang memiliki sejarah panjang, dengan para anggotanya yang sangat terkenal, seperti penemu listrik Thomas Alva Edison, penemu telepon Alexander Graham Bell, industriawan tenaga listrik Elihu Thomson, penemu aliran listrik AC/DC Nikola Tesla yang namanya kini diabadikan sebagai nama mobil listrik, penemu radio Guglielmo Marconi, dan Edith Clarke, insinyur dan profesor perempuan pertama penemu mesin komputer.
Partisipasi aktif para ilmuwan Indonesia dalam IGARSS 2026 menjadi penanda penting bahwa kemampuan nasional di bidang remote sensing—mulai dari teknologi drone hingga satelit, termasuk pengolahan data digital dan aplikasinya—telah berkembang pesat. Hal ini sekaligus menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga kontributor dalam inovasi teknologi pengamatan Bumi, khususnya untuk mendukung pengelolaan sumber daya alam di Nusantara.
***



