Perkembangan teknologi digital semakin canggih dan bisa dimaksimalkan untuk membantu masyarakat perdesaan dan masyarakat berpenghasilan rendah di Indonesia.
Masyarakat di perdesaan daerah terluar, terdepan dan terbelakang, yang seharusnya sekarang telah dilengkapi jaringan internet dalam paket Palapa Ring, sudah bisa menerapkan teknologi kecerdasan artifisal guna meningkatkan kesejahteraannya.
Ibaratnya, sekarang masing masing Desa sudah bisa memiliki pusat data mutakhir yang didukung teknologi kecerdasan artifical (Artificial Intelligence – AI).
Dalam diskusi Center for Technology & Innovation Studies (CTIS), Rabu (23/4/2025), yang mengangkat tema CTIS Open Knowledge Repository (CTIS-OKR) Untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah, Brigjen (Pur) Dr Paulus Prananto Msc, dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta, memaparkan ribuan buku dan dokumen dalam bentuk digital (E-Book) dari berbagai sektor, seperti: Pertanian, Kelautan, Perikanan, Kesehatan, Kehutanan, Sumberdaya Alam, Pendidikan, Riset dan Inovasi, yang telah disimpan dalam repository digital guna dipakai untuk berbagai kegiatan pembangunan.
Paulus Prananto memaparkan bahwa rendahnya minat baca masyarakat di perpustakaan maupun di ruang-ruang baca, akibat minimnya koleksi bacaan, bisa diantisipasi dengan teknologi digital ini.
Ibaratnya, saat ini sebuah SMA, SMK, SMP, SD bahkan, setiap rumah tangga, sudah bisa mengkoleksi ribuan buku mutakhir, dalam bentuk E-Books, untuk dibaca dan menambah ilmu pengetahuan dan teknologi.

Permasalahan bahasa juga dapat dipecahkan, karena teknologi kecerdasan artifisial (AI) mampu menterjemahkan beragam bahasa dalam hitungan detik.
Perkembangan AI, di era digital sangat memungkinkan masyarakat kelas manapun untuk belajar ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus menerapkannya.
Dalam diskusi CTIS itu, Paulus Prananto memperkenalkan teknologi AI yaitu pertama Perplexity AI dan AI Chat. Kedua adalah Open Knowledge Map, ketiga Google Notebook.
Perangkat perangkat lunak tadi ia gunakan untuk mencari, meringkas dan memberikan masukan tentang laporan hasil riset dan yang kemudian dikembangkan dalam satu knowledge base.
“Kegiatan ini sudah saya tekuni sejak 2010 sampai sekarang dan telah menghasilkan sekitar 500 ribu e-book,” kata Paulus Prananto, yang Doktor Alumnus dari Naval Post Graduate School di Monterey, California USA itu. .
E-book yang dihasilkan sangat bisa dipahami oleh publik mulai dari pertanian, kesehatan, kehutanan, kelautan, wirausaha, pendidikan dan lainnya.
Prananto, yang juga Brigjen (Purn) alumnus AKABRI-1970 itu, mengatakan bahwa di era digital yang penuh dengan miliaran data tersebar di seluruh dunia, bisa dimanfaatkan, salah satunya dengan perangkat lunak yang dikenal sebagai Perplexity AI.
Perplexity AI adalah platform kecerdasan buatan yang dirancang untuk memberikan hasil pencarian yang efisien dan mendalam. Platform ini dilengkapi dengan fitur interaktif yang mendukung pencarian berbasis konteks, yang sangat relevan dalam pembelajaran literatur. Tidak hanya mencari dan merangkum, namun menurut Prananto, perangkat lunak AI ini juga bisa menjawab pertanyaan dengan kritis, solutif, secara lebih mudah dan cepat. Seperti dicontohkan, memberikan analisis dan meringkas sebuah Buku Ilmiah secara cepat. “Karena pengguna dapat dengan cepat menemukan informasi baru berdasarkan konteks tertentu dan berlangsung secara interaktif”, terangnya.
Pada diskusi CTIS tadi, dilakukan uji coba interaktif atas empat produk pertanian, yaitu kemiri, porang, singkong dan kratom menggunakan Perplecity AI, Chat AI, Open Knowledge Map dan Google Notebook. Diperoleh lokasi lokasi produk tanaman dimaksud di Indonesia hingga tingkat desa, negara tujuan ekspor, besaran volume ekspor, harga nilai tambahnya hingga tahapan tahapan serta teknik menanam produk produk pertanian tadi, berikut gambar lengkap dan videonya. Lewat AI, kesemua informasi ini dapat diperoleh dalam sekejap.
Prananto berharap dengan penelusuran mendalam dan kritis ini maka pengguna dapat dengan cepat menemukan informasi berdasarkan konteks tertentu. “Saya berharap ada pihak bekerja sama untuk mengembangkan program ini,” harap Prananto.
Dr. Ali Alkatiri dari Kementerian Usaha Kecil dan Menengah, langsung menanggapi untuk segera menggelar uji coba di Rumah Rumah Produksi Bersama yang telah dibangun oleh Kementerian UKM diberbagai wilayah.
Dewan Pembina CTIS, Indroyono Soesilo mendukung program ini karena akan membawa anak-anak muda melalukan proses analisis kritis terhadap daerah mereka masing-masing dalam rangka mengembangkan kewira-usahaan di Desa Desa dan mendorong anak anak muda membuka usaha usaha start-up memanfaatkan teknologi AI pada kekuatan sumberdaya alam yang ada di desa masing masing. ***



