Kamis, 25 April 2024

Sabah Cabut Larangan Ekspor Log, Berlaku Mulai Januari 2022

Latest

- Advertisement -spot_img

Pemerintah negara bagian Sabah, Malaysia mencabut larangan ekspor log mulai Januari 2022.

Volume log yang akan diekspor ditentukan dengan melibatkan pihak-pihak terkait yaitu sebesar 20% dari perkiraan produksi tahunan.

Demikian dikutip forestinsights.id dari artikel yang tayang di theborneopost.com, 29 Desember 2021.

Kepala Pengelolaan Hutan Sabah Datuk Frederick Kugan mengonfirmasi hal itu berdasarkan surat edaran tertanggal 21 Desember 20221.

Surat edaran itu menginformasikan rencana ekspor log terbatas. Berdasarkan kebijakan tersebut pohak yang memenuhi persyaratan bisa mulai mengekspor log mulai 3 Januari 2022.

“Komite koordinasi yang melibatkan asosiasi produsen log dan asosiasi industri pengolahan, dan lembaga pemerintahan terkait akan dibentuk untuk menentukan pembagian kuota log dari hutan alam yang bisa diekspor, yang sebesar 20% dari produksi tahunan,” kata Frederick Kugan.

Surat edaran itu juga menginformasikan kepada para kepada distrik bahwa pencabutan larangan eskpor log itu sudah disetujui oleh kabinet pemerintah Negara Bagian.

Pelaksanaan ekspor log akan dilakukan per kasus berdasarkan kemampuan dari pihak yang mengajukan.

Dalam surat edaran tersebut juga dicantumkan beberapa kriteria siapa saja pihak yang diperkenankan untuk mengekspor log dari Sabah. Termasuk diantaranya adalah pemegang sertifikat pengelolaan hutan lestari.

Surat edaran itu juga menyatakan bahwa seluruh kapal yang akan terlibat dalam proses ekspor log mesti mengajukan persetujuan kepada Syarikat Innoprise Sdn Bhd, yang ditunjuk oleh Yayasan Sabah.

Larangan ekspor log di Sabah merupakan kebijakan Partai Warisan, yang menguasai Sabah. Larangan ekspor log itu mulai diterapkan tahun 2018.

Mantan Kepala Menteri sabah Datuk Seri Shafie Apdal waktu itu beralasan bahwa penerapan kebijakan larangan ekspor log akan memastikan pasokan bahan baku yang memadai bagi industri dan membuka lapangan kerja bagi warga Sabah. ***

More Articles