Pancasila, Soekarno dan Capitol Hill: Sebuah Warisan Diplomasi Abadi

Latest

- Advertisement -spot_img

Pidato Presiden Soekarno tentang Pancasila pada Sidang Gabungan DPR dan Senat Amerika Serikat, Joint Session of US Congress, di Gedung Capitol Wasington DC, 17 Mei 1956, 70 tahun lalu, disambut antusias oleh rakyat Amerika. Dalam artikel opini harian The New York Times, pada 20 Mei 1956, ditekankan bahwa pidato Presiden Soekarno memperlihatkan sikap AS yang bergeser, dari penekanan pada isu militer menuju pemahaman lebih simpatik terhadap nasionalisme Asia dan pembangunan ekonomi.

Artikel Harian The New York Times ini menyimpulkan bahwa AS sebaiknya membantu negara-negara netral memperkuat kemerdekaan mereka tanpa syarat politik. Menariknya, meski pidato Soekarno itu mengkritik Barat, pers dan media Amerika justru meliputnya secara positif, karena dianggap menunjukkan konsistensi sikap antikolonialisme Soekarno sejak muda.

Majalah TIME juga meliput dengan nada hangat, mengutip pidato Presiden Soekarno di US Congress: “May I be frank?… We of Indonesia are in the stage of national turmoil through which America passed some 150 years ago. We ask you to understand”. Kala itu, tahun 1956, Amerika Serikat baru merayakan Kemerdekaannya yang ke 180 tahun. Tahun ini, Tahun 2026, Amerika Serikat Merayakan Kemerdekaannya yang ke 250 tahun. Isi pidato itu masih relevan hingga saat ini.

Itulah butir-butir disampaikan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo saat menyambut Hari Lahirnya Pancasila di Kedutaan Besar RI Washington DC, 2 Juni 2026. Pada Upacara hari Lahirnya Pancasila tahun 2026, yang dihadiri pimpinan dan staff KBRI Washington DC, dan mengambil tema: “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, Dubes Indroyono mengingatkan kilas balik lahirnya Pancasila, dimulai dengan dibentuknya Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI / Dokuritsu Junbi Cosakai), yang diketuai Dr. Radjiman Wedyodiningrat. Pada sidang pertama BPUPKI, 29 Mei – 1 Juni 1945, di Gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri), para tokoh seperti Soekarno, Hatta dan Mohammad Yamin membahas dasar negara.

Pada 1 Juni 1945, Soekarno mengusulkan lima dasar negara yang dinamainya “Pancasila” — dari kata Sanskerta panca (lima) dan sila (prinsip/asas). Untuk menyempurnakan rumusan ide Soekarno tersebut, maka BPUPKI membentuk Panitia Sembilan yang terdiri dari: Soekarno, Hatta, Abikoesno Tjokrosoejoso, Agus Salim, Wahid Hasjim, Mohammad Yamin, Abdul Kahar Muzakir, AA Maramis, dan Achmad Soebardjo.

Pada Sidang BPUPKI 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menghasilkan naskah Piagam Jakarta (Jakarta Charter), yang memuat rumusan dasar negara yang lebih lengkap. Sehari setelah Proklamasi Kemerdekaan, 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengesahkan rumusan final Pancasila dan mencantumkannya dalam Pembukaan (Mukadimah) UUD 1945.

Pada momen ini, sila pertama mengalami penyesuaian penting: tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihilangkan dan diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga rumusan Pancasila menjadi yang berlaku hingga sekarang.

Pada peringatan Hari Lahirnya Pancasila 2026 di KBRI Washington DC ini, Dubes Indroyono mengajak para peserta upacara untuk mengenang dan menyampaikan hormat kepada para Pahlawan Perintis Kemerdekaan, Para Pahlawan Pejuang Kemerdekaan dan Para Pahlawan yang mempertahanan Kemerdekaan atas jasa jasa mereka sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia bisa tetap tegak berdiri sampai hari ini.

- Advertisement -spot_img

More Articles