Kementerian Kehutanan bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Yayasan Badak Indonesia (YABI) memulai Operasi Merah Putih: Translokasi Badak Jawa di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Program ini menandai upaya serius Indonesia dalam melindungi satwa endemik yang kini hanya tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa translokasi menjadi bagian penting dari tanggung jawab negara. Ia menyebut upaya ini bukan sekadar teknis pemindahan, melainkan simbol kemerdekaan satwa dari ancaman kepunahan.
“Bekerja sendiri hampir mustahil menghasilkan terobosan. Dengan kolaborasi, kita memastikan Badak Jawa tetap hidup di habitatnya,” ujarnya.
Ancaman kepunahan Badak Jawa dipicu oleh keterbatasan habitat, rendahnya variasi genetik, dan tingginya tingkat perkawinan sedarah. Kajian ilmiah memprediksi spesies ini bisa lenyap dalam kurun kurang dari 50 tahun jika tidak ada langkah nyata.
TNI memastikan dukungan penuh terhadap operasi, mulai dari pengamanan, logistik, hingga transportasi laut menggunakan alutsista Korps Marinir. “Pesan Panglima TNI jelas, kami siap mendukung pelestarian satwa langka ini,” kata Marsekal Pertama TNI Muhammad Taufiq Arasj.
Ketua YABI, Jansen Manansang, menyebut operasi ini membuka harapan baru. Ia menekankan perlunya kerja lintas sektor, riset ilmiah, dan dukungan tenaga medis untuk menjaga keberlangsungan spesies.
Direktur Jenderal KSDAE, Satyawan Pudyatmoko, menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai tahapan teknis, mulai dari pembangunan Javan Rhino Study and Conservation Area (JRSCA), survei jalur translokasi, hingga penyusunan pedoman etik bersama pakar internasional.
Pemerintah berharap translokasi ini mampu membentuk populasi baru yang lebih sehat dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan komitmen tinggi terhadap konservasi satwa ikonik. ***



