Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menjalin kerja sama dengan Fairatmos (PT. Udara Untuk Semua) untuk mendukung implementasi kebijakan perdagangan karbon sektor kehutanan. Perjanjian Kerja Sama (PKS) APHI dan Fairatmos ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum APHI Bidang Hukum, Humas dan Kerjasama Erwansyah dan Direktur PT. Udara Untuk Semua Natalia Rialucky di Jakarta, Senin, 22 Juni 2026.
Turut hadir dan menyaksikan penandatanganan pada kesempatan tersebut Sekretaris Jenderal APHI Purwadi Soeprihanto dan staf teknis baik dari APHI maupun Fairatmos.
Erwansyah menyatakan bahwa saat ini paradigma pengelolaan hutan telah bergeser, ke depan tidak lagi melakukan ekstraksi dan melakukan penebangan kayu sebagai satu-satunya sumber ekonomi bagi perusahaan. Bisnis baru multiusaha kehutanan, salah satunya jasa lingkungan dan bisnis karbon amat menjanjikan.
APHI menyadari bahwa dalam rangka implementasi perdagangan sektor kehutanan tidaklah mudah, diperlukan upaya dan kerja keras dalam pemenuhan persyaratan dan peningkatan kapasitas khususnya pada Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) anggota.
’’Melalui kerjasama dengan Fairatmos ini diharapkan terjalin sinergi yang kuat untuk mendukung implementasi kebijakan perdagangan karbon sektor kehutanan sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan”ujar Erwansyah,
Lebih lanjut, Erwansyah menyatakan bahwa sektor kehutanan merupakan satu-satunya sektor berbasis lahan yang telah siap dengan dukungan regulasi pamerintah. Namun untuk dapat merealisasikan perdagangan karbon di sektor berbasis lahan ini masih diperlukan peningkatan kapasitas, kompetensi, serta pemahaman sumber daya manusia (SDM) pada perusahaan pemegang PBPH anggota APHI.
Mendukung pernyataan Erwansyah, Sekretaris Jenderal APHI Purwadi Soeprihanto menyatakan bahwa peningkatan kapasitas dimaksud dengan memperkuat kesiapan perusahaan pemegang PBPH anggota APHI dalam berpartisipasi secara efektif, akuntabel, dan berdaya saing dalam penyelenggaraan perdagangan karbon sektor kehutanan, sekaligus mendukung pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca nasional serta pengelolaan hutan lestari.
“Beberapa kegiatan akan didesain diselenggarakan secara bersama antara lain sosialisasi kebijakan/regulasi, informasi peluang pasar, pelatihan/training, pembelajaran metode penghitungan pengurangan emisi dan serapan karbon serta implementasinya di lapangan, dan penyampaian update perkembangan perdagangan karbon sektor kehutanan kepada perusahaan pemegang PBPH anggota APHI hingga mampu membuat dokumen rancangan aksi mitigasi pengurangan emisi” ujar Purwadi.
Sementara itu, Natalia Rialucky menyatakan optimis melalui kerjasama dengan APHI ini akan dapat mempercepat peningkatan kapasitas bagi perusahaan pemegang PBPH dan juga akan dapat melakukan transaksi perdagangan karbon sektor kehutanan.
Salah satu kegiatan yang amat penting adalah melakukan pendampingan kepada PBPH yang akan menyiapkan proyek penurunan emisi melalui perdagangan karbon sektor berbasis lahan (FOLU) dan pada akhirnya hutan kita tetap terjaga dan lestari.
“Melalui kegiatan pendampingan dalam pengembangan proyek karbon kepada perusahaan pemegang PBPH anggota APHI diharapkan dapat meningkatkan kesiapan perusahaan untuk dapat memanfaatkan skema pendanaan karbon sebagai investasi hijau dan pada akhirnya dapat meningkatkan dan menguatkan tata kelola dan praktik-praktik terbaik (best practices) dalam pengelolaan hutan yang lestari dan berdaya saing” pungkas Ria.
***



