Kesiapsiagaan serta penanganan menyeluruh hingga tahap pendinginan menjadi kunci untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan kembali menyala dan meluas. Komisariat Daerah (KOMDA) Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Papua Barat mengapresiasi PT Kesatuan Mas Abadi (KMA) yang melakukan patroli dan pendinginan di areal savana yang sebelumnya terbakar.
Ketua KOMDA APHI Papua Barat Haryoto mengapresiasi kesiapsiagaan PT Kesatuan Mas Abadi dalam melakukan penanggulangan karhutla.
“Penanganan kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti ketika api sudah tidak terlihat. Patroli dan pendinginan tetap harus dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara atau titik panas yang dapat memicu kebakaran kembali,” kata Haryoto di Manokwari pada Minggu (30/08/2026).
Menurut Haryoto, kegiatan pendinginan merupakan bagian penting dari penanganan pasca kebakaran, terutama pada areal savana yang memiliki vegetasi relatif mudah terbakar. Kondisi cuaca kering dan tiupan angin dapat menyebabkan api kembali muncul apabila masih terdapat bara yang belum sepenuhnya padam.
PT Kesatuan Mas Abadi melaksanakan patroli dan pendinginan pada Jumat, 28 Agustus 2026, mulai pukul 08.00 hingga 16.45 WIT. Kegiatan difokuskan pada areal savana yang sebelumnya mengalami kebakaran.
Personel pemadam kebakaran perusahaan dikerahkan dalam kegiatan pemadaman tersebut dengan dukungan Tentara Nasional Indonesia yang diperbantukan atau Bawah Kendali Operasi (BKO). Tim dilengkapi dengan mobil pemadam kebakaran, mesin pompa Kohler, selang pemadam berukuran 1,5 inci dan 2,5 inci, perangkat percabangan selang, nozzle, serta berbagai peralatan pendukung lainnya.
Camp Managef PT Kesatuan Mas Abadi Hengki F mengatakan patroli dilakukan untuk memeriksa seluruh bagian areal yang telah terbakar dan memastikan tidak terdapat titik api maupun bara yang masih aktif.
“Tim melakukan penyisiran, pemeriksaan titik-titik yang berpotensi menyimpan bara, serta pendinginan pada bagian areal yang dinilai masih rawan. Langkah ini dilakukan untuk mencegah api kembali menyala dan menjalar ke wilayah di sekitarnya,” katanya.
Ia menjelaskan seluruh personel bekerja dengan mengutamakan keselamatan dan mengikuti prosedur penanganan kebakaran. Kondisi lapangan juga terus dipantau sebagai dasar untuk menentukan kebutuhan patroli dan pendinginan lanjutan.
“Kami tetap menyiagakan personel dan peralatan. Apabila dari hasil pemantauan kembali ditemukan asap, bara, atau indikasi titik api, tim akan segera melakukan penanganan agar kebakaran tidak berkembang,” ujarnya.
APHI Papua Barat mendorong seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan untuk terus memperkuat patroli, deteksi dini, kesiapan regu pemadam, serta ketersediaan peralatan dan sumber air selama periode rawan kebakaran. Melalui koordinasi antara perusahaan, pemerintah daerah, TNI/Polri, Manggala Agni, dan masyarakat, setiap indikasi kebakaran diharapkan dapat dideteksi dan ditangani sedini mungkin sehingga tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
***



