Pada Selasa, 13 Oktober 2026, Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, menerima para calon ulama dari Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ)/PTIQ University Jakarta. Mereka adalah peserta Program Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) yang tengah menyelesaikan program studi singkat di Hartford International University for Religion and Peace (HIU), Connecticut – AS. Dalam pertemuan itu, mereka menyampaikan pengalaman belajar di ruang kelas interreligius, riset bersama dosen HIU, dialog dengan mahasiswa lintas agama, serta kehidupan akademik dan budaya di Amerika Serikat.
Program ini merupakan buah kerja sama antara Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ University), Masjid Istiqlal, dan Hartford International University (HIU). Melalui kemitraan tersebut, mahasiswa PKUMI memperoleh kesempatan belajar di lingkungan akademik yang menggabungkan kajian Al-Qur’an, studi Islam, dialog antarumat beragama, dan pembangunan perdamaian.
Para peserta berasal dari berbagai daerah, antara lain, Lombok Tengah, Taliwang Sumbawa Barat, Seluma Bengkulu, Kampar Utara Riau, Wajo Sulawesi Selatan, Pontianak Kalimantan Barat, Donggala Sulawesi Tengah, Tuban dan Kediri di Jawa Timur. Mereka berangkat ke Amerika Serikat melalui beasiswa LPDP, serta rekomendasi Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar. Program studi singkat ini juga merupakan bagian wajib kurikulum PKUMI.
Selama di HIU, para calon ulama melakukan riset tesis atau disertasi bersama pembimbing, mengikuti seminar kajian Al-Qur’an dan metode riset Islam, serta mengikuti kegiatan antarbudaya dan latihan bahasa Inggris. Mereka juga bertemu dan berdialog dengan mahasiswa Muslim, Yahudi, Kristen Ortodoks, Bahá’í, serta Druze. Pengalaman ini menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan dapat dihadapi melalui pengetahuan, empati, dan komunikasi yang setara.
HIU dirancang sebagai ruang belajar interreligius. Disana, para mahasiswa PTIQ-Jakarta mempelajari teologi perbedaan agama, dialog lintas iman, stereotip, dan cara menghindari sikap mengucilkan kelompok lain. Para peserta juga didorong mengunjungi serta memahami komunitas iman yang berbeda, bukan hanya mempelajarinya dari teori.
Kerja sama PTIQ University, Masjid Istiqlal, dan HIU semakin kokoh melalui kesepakatan dengan Kementerian Agama RI. Kerja sama itu mencakup pendidikan, riset bersama, pertukaran akademisi, dan pengembangan program kader ulama, termasuk penguatan peran ulama perempuan.
Dari berbagai penjuru Indonesia, para calon ulama ini pulang dengan bekal yang lebih dari sekadar ilmu akademik. Mereka membawa pengalaman bertemu dengan manusia dari banyak keyakinan, belajar mendengar, dan membangun jembatan. Pesan dari Hartford sederhana tetapi penting: perbedaan agama bukan penghalang untuk bertemu, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan memperkuat perdamaian.
***



