Kementerian Kehutanan mencatat Provinsi Riau tidak lagi memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam pemantauan terbaru kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, pemerintah belum mengendurkan pengendalian karena Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih menghadapi konsentrasi hotspot serta dampak kabut asap.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 805 hotspot high confidence di Indonesia hingga Rabu (2/9/2026) pukul 21.31 WIB. Selain Riau, pemerintah masih memusatkan perhatian pada Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, dan Jambi.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui penginderaan satelit. Data tersebut tidak secara otomatis menunjukkan adanya kebakaran aktif pada setiap titik. Karena itu, tim di lapangan tetap melakukan ground check untuk memastikan kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan yang diperlukan.
Pemerintah mengerahkan operasi terpadu dengan melibatkan Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Masyarakat Peduli Api, pemerintah daerah, serta pihak swasta. Tim gabungan menjalankan pemantauan, verifikasi lapangan, patroli, dan pemadaman untuk mencegah api berkembang dan meluas.
Dukungan udara juga diperkuat dengan 53 unit armada. Sebanyak 19 armada mendukung patroli udara sekaligus kegiatan penaburan bahan semai dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedangkan 34 armada lainnya disiapkan untuk water bombing pada lokasi kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Kementerian Kehutanan terus mengoptimalkan OMC di wilayah prioritas yang memenuhi persyaratan meteorologis. Operasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan dan membantu upaya pengendalian kebakaran di wilayah yang masih menghadapi kondisi rawan.
Di sisi lain, kabut asap masih menjadi persoalan di sebagian wilayah Kalimantan. BMKG mencatat mayoritas wilayah Indonesia, termasuk Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, berada dalam kategori kualitas udara Baik hingga Sedang. Namun, beberapa wilayah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah masih mengalami kualitas udara pada kategori Sangat Tidak Sehat.
Kabut asap juga memengaruhi jarak pandang. Di Pontianak, jarak pandang pada 2 September sempat turun hingga sekitar 200 meter pada pagi hari akibat asap tebal. Kondisi kemudian membaik seiring perubahan arah angin dan meningkatnya suhu. Sementara itu, Palangka Raya dan sejumlah wilayah Kalimantan Tengah masih mengalami udara kabur dengan jarak pandang terbatas.
Perubahan jarak pandang berlangsung dinamis dan dipengaruhi arah angin, curah hujan lokal, serta konsentrasi asap. Kondisi tersebut membuat koordinasi antara tim darat dan udara perlu berlangsung secara intensif untuk menjaga keselamatan penerbangan sekaligus mendukung penanganan kebakaran.
Kementerian Kehutanan meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka maupun membersihkan lahan menggunakan api. Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan diri ketika kondisi udara memburuk.
***



