Kamis, 25 April 2024

Transisi Energi Terbarukan, Keterjangkauan Harga Harus Diperhatikan

Latest

- Advertisement -spot_img

Program transisi ke energi bersih demi pengurangan emisi gas rumah kaca membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Dukungan pendanaan berkelanjutan (sustainable financing) sangat diperlukan agar program tersebut tetap bisa menyediakan kebutuhan energi yang terjangkau bagi masyarakat.

Demikian dinyatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu dalam pidato kunci pembukaan diskusi panel bertajuk ‘The Financing of Energy Transition: Balancing Sustainability and Affordability’ di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim COP28 UNFCCC, Dubai, Uni Emirat Arab, Minggu, 3 Desember, 2023.

Febrio menyatakan investasi bagi transisi energi tidak hanya menghadirkan energi bersih, tetapi juga untuk memacu pertumbuhan ekonomi.

_________

Menurutnya, tantangan besar dalam transisi energi adalah bagaimana menyiasati besarnya pendanaan yang dibutuhkan ketika berpindah dari energi fosil ke energi baru dan terbarukan (EBT).

Febrio juga menyatakan dalam transisi energi, dibutuhkan kolaborasi investasi di tingkat global. Menurut dia, Pemerintah telah menjalin kolaborasi dengan Multilateral Development Bank (MDB) dan Asian Development Bank (ADB) terkait pendanaan.

“Kita sudah diskusikan terkait crowding investment. Kita sadar bahwa program transisi energi tidak cuma berlangsung setahun, tetapi berlanjut hingga tahun-tahun mendatang, jadi strateginya harus jelas. Kami yakin (investasi) sektor swasta bakal datang ketika mereka lihat proyeknya telah siap,” jelas dia.

Febrio optimis program transisi energi bisa berjalan dengan baik. Pasalnya, investor saat ini sudah menyuarakan perlunya dilakukan transisi energi bersih.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan, guna mengatasi krisis iklim dunia, komunitas global mesti bersatu. Terutama untuk mengatasi tantangan transisi ke energi hijau, baik dari sisi teknologi, kebijakan dan investasi.

Darmawan menjelaskan, dalam transisi energi PLN telah merancang skema Accelerated Renewable Energy Development (ARED) dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap.

“Kami memiliki perencanaan kebijakan investasi yang komprehensif untuk proyek-proyek hijau PLN. Kami akan mengkonsolidasikan aliran modal, bank swasta, bank multilateral, filantropi, investor swasta sedemikian rupa sehingga komunitas global yang sebelumnya terfragmentasi menjadi bersatu dan aliran investasi tersebut benar-benar bekerja dengan baik,” ujar Darmawan.

Direktur Keuangan PLN Sinthya Roesly mengungkapkan, PLN membutuhkan investasi sekitar 157 miliar dolar AS sampai dengan tahun 2040 untuk mencapai NZE di tahun 2060. Untuk itu, PLN akan terus mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak agar agenda transisi energi yang PLN rencanakan dalam ARED bisa berjalan.
“Saat ini, program transisi energi PLN juga telah banyak didukung oleh pendanaan sektor publik,” ucap Sinthya.

Dia juga menegaskan bahwa dalam rangka mengakses pendanaan transisi energi, PLN terus berupaya meningkatkan rating Environmental, Social, & Governance (ESG) Korporat.

“Jadi, PLN sudah punya sistem pengendalian parameter lingkungan, sosial dan tata kelola yang dilengkapi dengan dashboard digital. Selain itu, PLN juga telah membentuk divisi khusus untuk transisi energi dan keberlanjutan,” ujarnya. ***

More Articles