9 Forest Heroes Perhutanan Sosial Didorong Replikasi Praktik Baik di Berbagai Daerah

Latest

- Advertisement -spot_img

Sembilan pengelola Perhutanan Sosial dari berbagai daerah mendapat Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional 2026 atas kontribusi mereka dalam menjaga hutan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat. Kementerian Kehutanan mendorong para penerima penghargaan tersebut menjadi rujukan bagi kelompok Perhutanan Sosial lain melalui penyebaran praktik pengelolaan hutan berbasis masyarakat.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dan Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani menyerahkan penghargaan tersebut dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Raja Juli mengatakan pemerintah tidak ingin penghargaan tersebut berhenti sebagai apresiasi tahunan. Menurutnya, pengalaman para penerima penghargaan di tingkat tapak perlu didokumentasikan dan dikembangkan agar dapat diterapkan di wilayah lain.

“Para pemenang adalah pusat pembelajaran (center of excellence). Saya minta profil dan praktik baik dari para teladan ini didetailkan agar dapat kita pelajari dan replikasi di tempat lain,” tegas Raja Juli.

Ia menilai praktik pengelolaan hutan yang berhasil harus mampu mendorong perubahan yang lebih luas dalam tata kelola hutan lestari. Pemerintah akan melihat keberhasilannya melalui manfaat ekonomi bagi masyarakat, terjaganya keanekaragaman hayati, serta kontribusinya terhadap penurunan emisi karbon.

Sembilan penerima penghargaan tersebut mewakili tiga skema Perhutanan Sosial. Pada kategori Hutan Desa, LPHD Ciloto dari Cianjur, Jawa Barat, meraih Terbaik I. Lembaga Desa Wisata Wills Sejahtera dari Madiun, Jawa Timur, menempati Terbaik II, sedangkan LPHD Mesale dari Poso, Sulawesi Tengah, meraih Terbaik III.

Untuk kategori Hutan Kemasyarakatan, Terbaik I diberikan kepada HKm Tuah Sejati dari Aceh Besar, Aceh. HKm KTH Satria Mandiri dari Cianjur, Jawa Barat, menjadi Terbaik II, sementara HKm Kelompok Tani Cinta Mangrove dari Batu Bara, Sumatera Utara, meraih Terbaik III.

Adapun kategori Hutan Adat menempatkan Hutan Adat Larangan Mude Ayek Tebat Benawa dari Pagar Alam, Sumatera Selatan, sebagai Terbaik I. Hutan Adat Ketemenggungan Tae dari Sanggau, Kalimantan Barat, meraih Terbaik II dan Hutan Adat Bukit Demulih dari Bangli, Bali, menjadi Terbaik III.

Catur Endah Prasetiani mengatakan Kementerian Kehutanan akan menghubungkan para penerima penghargaan dengan kelompok Perhutanan Sosial lainnya melalui mekanisme sekolah lapang. Skema tersebut memungkinkan kelompok lain mempelajari langsung pengalaman dan metode yang telah berjalan di lapangan.

“Para penerima Penghargaan Wana Lestari tidak berhenti sebagai pemenang. Praktik baik mereka akan menjadi bahan pembelajaran bagi kelompok Perhutanan Sosial lainnya melalui sekolah lapang, sehingga pengalaman yang telah terbukti di tingkat tapak dapat dipelajari dan dikembangkan di tempat lain,” ujar Catur.

Program pembelajaran tersebut akan dimulai di LPHD Ciloto, Cianjur, yang meraih peringkat pertama kategori Hutan Desa. Kelompok penerima penghargaan dari berbagai daerah akan bertukar pengalaman mengenai pengelolaan hutan, pengembangan potensi wilayah, inovasi, serta manfaat yang telah dihasilkan bagi masyarakat.

Pendekatan itu diharapkan memperluas dampak Penghargaan Wana Lestari. Dengan menjadikan para penerima sebagai pusat pembelajaran, praktik pengelolaan hutan yang telah terbukti di tingkat tapak dapat dikembangkan oleh kelompok Perhutanan Sosial lain tanpa berhenti pada wilayah asalnya.
***

- Advertisement -spot_img

More Articles