Pertunjukan drama musikal Jiwa Kala digelar di University of Richmond, Virginia AS, pada 19 April 2026 dan menjadi panggung megah promosi budaya Indonesia di kampus Universitas terkenal, berjarak 160 Kilometer dari Ibukota Amerika Serikat, Washington DC itu.
Dimotori Dr.Peni Candra Rini, seorang komposer, artis sekaligus pengajar asal Indonesia di jurusan musik Universitas ini, mengundang decak kagum sekitar 500-an penonton yang memenuhi Camp Concert Hall, ketika menyaksikan perpaduan gamelan Jawa, gamelan Bali, suara angklung, vokal tradisi, tari istana, dan sentuhan musik modern tertata apik yang memukau.
Pagelaran musik ini lebih istimewa karena dihadiri Duta Besar RI untuk Amerika Serikat, Indroyono Soesilo, serta K.G.P.A.A. Mangkunegoro X dari Surakarta, yang khusus membawa para penari Keraton Mangkunegaran, tampil menghadirkan suasana seakan penonton dibawa langsung ke pendapa keraton Solo itu.
Secara musikal, karya ini diperkuat oleh komposer dan arranger, seperti Daniel Leibovic, Benjamin Broening, Jacob Garchik dan Andy McGraw, serta didukung oleh para penyanyi dan performer lintas disiplin yang menghidupkan setiap segmen pertunjukan. Pertemuan Andy McGraw dengan seniman Indonesia menawarkan perspektif yang segar. Saat melakukan riset di Indonesia awal dekade 2000-an, Andy McGraw bergabung dengan kelompok eksperimental Sono Seni yang dipimpin I Wayan Sadra. Di sana, ia bertemu Penny (Peni Candra Rini), penyanyi muda dari desa pesisir yang membawa suara dan ekspresi artistik yang unik. Melalui cerita masa kecil Penny tentang mitologi Rara Kidul, Andy awalnya melihatnya sebagai tradisi lama yang sulit dipahami. Namun, pengalamannya di Bali kemudian membuka wawasan baru: kepercayaan dan ritual lokal ternyata menyimpan logika keberlanjutan yang kuat. Praktik adat menjaga keseimbangan alam sekaligus melindungi komunitas dari bencana.
Jiwa Kala” adalah karya multidisipliner berdurasi satu jam yang melampaui batas konser, ritual, dan refleksi ekologis. Melalui perpaduan musik eksperimental Barat dan Indonesia, tari, teater bayangan, serta film, pertunjukan ini menghadirkan pengalaman imersif tentang krisis iklim yang dirasakan, bukan sekadar dipahami.
Berakar pada mitologi Jawa, dua tokoh utama hadir sebagai penjaga keseimbangan alam: Kanjeng Ratu Kidul, penguasa laut yang kini terancam pemanasan global, dan Dewi Sri, dewi kesuburan yang kian rapuh akibat eksploitasi manusia. Keduanya menjadi pusat narasi simbolik tentang relasi manusia dan bumi.
Dalam sepuluh bagian, kisah bergerak dari harmoni (Kemuda Djiwa, Ranum, Bulan Sabit) menuju krisis (Meratus, Ketiga Dawa, Sesaji Rusak), hingga harapan (Hujan, Kodok). Setiap segmen memperkuat pesan bahwa alam memiliki suara dan ingatan.
“Jiwa Kala” menjadi sajen kontemporer—sebuah panggilan untuk berhenti, mendengar, dan bertanya: masih adakah waktu untuk memulihkan bumi?
Karya Penny, seperti Jiwa Kala ini, menjadi pengingat bahwa budaya, kepercayaan, dan seni bukan sekadar warisan, tetapi juga cara efektif mentransmisikan nilai keberlanjutan lintas generasi.
***



